RADARTASIK.ID – Mimpi Como untuk tampil di Liga Champions musim depan kian mendekati kenyataan.
Tim asuhan Cesc Fàbregas tampil mengejutkan dan kini menjadi kandidat kuat untuk finis di empat besar Serie A—sebuah pencapaian yang nyaris tak terbayangkan beberapa bulan lalu.
Namun, di balik potensi keberhasilan tersebut, terdapat sejumlah tantangan besar yang harus dihadapi klub, khususnya di luar lapangan.
Baca Juga:Salah Umumkan Akan Tinggalkan Liverpool, Agen: Waspadai Pemburu Berita SensasiDeco Bolak Balik ke Milan, Barcelona Serius Rekrut Bastoni
Jika berhasil lolos ke kompetisi elite Eropa itu, Como akan berhadapan dengan tiga isu utama: regulasi skuad UEFA, kelayakan stadion, dan aturan Financial Fair Play (FFP).
Dari ketiganya, masalah komposisi pemain justru menjadi sorotan paling mendesak.
Menurut laporan Calciomercato, dalam dua musim terakhir Como berkembang pesat sejak diakuisisi oleh keluarga Hartono dari Indonesia.
Klub ini menggelontorkan investasi besar demi membangun skuad kompetitif. Total belanja transfer mereka bahkan telah melampaui €150 juta atau sekitar Rp2,55 triliun (kurs €1 = Rp17.000).
Namun, sebagian besar pendanaan tersebut masih berasal dari kantong pribadi pemilik, belum sepenuhnya diimbangi oleh peningkatan pendapatan komersial.
Artinya, ketika masuk ke kompetisi UEFA, Como harus mulai menyesuaikan diri dengan regulasi finansial yang lebih ketat.
Secara teknis, skuad Como dinilai cukup kompetitif untuk tampil di Liga Champions. Akan tetapi, regulasi yang berlaku di Serie A berbeda dengan yang diterapkan UEFA—dan di sinilah potensi masalah muncul.
Di Serie A, klub diperbolehkan mendaftarkan hingga 25 pemain, dengan kewajiban memiliki pemain “homegrown” (didikan sendiri atau lokal).
Baca Juga:Oumar Solet Diincar Inter Milan, Presiden Udinese Bingung Tentukan HargaFilippo Galli: Berlusconi Memberitahu Kami AC Milan Tim yang Ditakdirkan untuk Menang
Namun, ada celah penting: pemain di bawah usia 23 tahun tidak dihitung dalam kuota tersebut.
Como memanfaatkan aturan ini dengan baik untuk membangun skuad muda dan bertalenta. Sayangnya, fleksibilitas tersebut tidak berlaku di Liga Champions.
UEFA menetapkan aturan lebih ketat: maksimal 25 pemain dengan kewajiban delapan pemain “homegrown”, yang terdiri dari empat pemain binaan klub dan empat pemain yang berkembang di federasi nasional (Italia).
Jika kuota ini tidak terpenuhi, maka slot pemain tidak bisa digantikan—yang berarti jumlah skuad akan berkurang.
