TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Tanjakan Gentong kembali menunjukkan reputasinya sebagai jalur penguji kesabaran—dan ketahanan kendaraan—saat arus mudik dan balik Lebaran 2026.
Di balik deru mesin dan padatnya lalu lintas, satu per satu kendaraan tumbang di tanjakan yang tak pernah benar-benar ramah bagi pengemudi yang nekat.
Selasa (24/3/2026) sore, pemandangan kendaraan mogok di bahu jalan nyaris jadi “menu wajib”.
Baca Juga:Arus Balik dari Tasikmalaya Melandai, One Way Berkali-kali Jadi Penyelamat GentongAmankan Rumah Kosong, Patroli Malam di Kota Tasikmalaya Diperketat
Roda dua hingga roda empat terlihat terdiam, sebagian pengendara kebingungan, sebagian lain pasrah menunggu bantuan.
Masalahnya klasik, tapi terus berulang: kopling aus, rem tak pakem. Kombinasi maut di jalur menanjak panjang seperti Gentong.
Namun di tengah keluhan pemudik, ada geliat ekonomi dadakan. Para mekanik di sekitar lokasi justru sibuk bukan main. Order berdatangan seperti antrean tak bertuan.
Salah satunya Indri Kurniawan (22), mekanik yang sejak pagi tak sempat benar-benar menarik napas panjang.
Tangannya kotor oli, tapi ponselnya bersih dari notifikasi yang sepi.
“Ini lagi bongkar mobil yang habis kopling,” ujarnya singkat, sambil terus bekerja.
Menurut Indri, mayoritas kendaraan yang mogok mengalami persoalan serupa.
Bukan sekadar faktor usia kendaraan, tapi juga kebiasaan berkendara yang keliru saat menanjak.
“Rata-rata di kopling sama rem. Banyak yang pakai setengah kopling terus, itu bikin cepat habis,” katanya.
Ia menyarankan pengemudi untuk lebih bijak saat berhenti di tanjakan.
Baca Juga:Antisipasi Kejahatan Pasca Lebaran di Kota Tasikmalaya: Patroli Polisi DigenjotZiarah Lebaran Picu Macet TPU di Kota Tasikmalaya, Parkir Meluber
Rem tangan seharusnya jadi andalan, bukan kopling yang dipaksa kerja rodi.
“Kalau berhenti, pakai rem tangan. Jangan ditahan pakai kopling terus,” ucapnya, setengah mengingatkan, setengah menyindir.
Tahun ini, Indri melihat tren yang menarik—jumlah kendaraan mogok meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.
Entah karena volume kendaraan yang melonjak atau pengemudi yang masih ‘nekat’ menaklukkan Gentong tanpa persiapan matang.
Bersama dua rekannya, ia bisa menangani hingga 10 kendaraan saat puncak arus balik. Sebuah angka yang menunjukkan Gentong belum kehilangan “taringnya”.
“Ini jadi berkah juga buat kami. Tahun ini mungkin bisa lebih banyak lagi,” katanya.
