TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Lebaran 1447 Hijriah di Kota Tasikmalaya bukan hanya soal opor dan silaturahmi.
Tradisi ziarah kubur justru menghadirkan “bonus tahunan”: kepadatan kendaraan hingga arus lalu lintas tersendat di sejumlah Tempat Pemakaman Umum (TPU).
Sejak pagi, Selasa (24/3/2026), peziarah memadati TPU, salah satunya TPU Cinehel di Kelurahan Panyingkiran, Kecamatan Indihiang.
Baca Juga:Arus Balik dari Tasikmalaya ke Bandung Tersendat: Gentong Lumpuh 12 KM, Laju Kendaraan DialihkanSampah Malam Takbiran di Kota Tasikmalaya Tembus 30 Meter Kubik
Kendaraan roda dua dan roda empat berjejer di bahu jalan, seolah marka parkir mendadak “resmi” tanpa perlu SK.
Petugas parkir terlihat sigap mengatur keluar-masuk kendaraan.
Namun, lonjakan pengunjung tetap membuat arus lalu lintas di sekitar lokasi melambat.
Warga yang datang dari dalam dan luar kota menjadi faktor utama padatnya kawasan pemakaman.
Kondisi serupa terjadi di TPU Cieunteung di Jalan Ciruntung.
Sejak pagi, kawasan ini sudah dipenuhi peziarah.
Jalanan sekitar pun ikut terseret dalam antrean panjang kendaraan yang bergerak—pelan, tapi pasti bikin sabar diuji.
Di balik kepadatan itu, ekonomi musiman ikut “panen berkah”.
Pedagang bunga tabur dan air berjajar di akses masuk TPU, disusul pedagang bakso, gorengan, es campur, hingga lotek.
Ziarah bukan cuma soal doa, tapi juga denyut rupiah yang ikut berputar.
Baca Juga:Ketika Kelelahan Mudik saat Lintasi Tasikmalaya, Ayah Tinggalkan Anak Tanpa SadarPR Zero Alkohol Masih Mengintip: 5.555 Botol Miras Dimusnahkan di Kota Tasikmalaya
Nuni Karyani (32), salah seorang peziarah, mengaku rutin datang setiap Lebaran H+1.
“Saya selalu menyempatkan diri berziarah ke makam saudara setiap pulang ke Tasikmalaya,” ujarnya.
Ia datang bersama keluarga besar, menjadikan ziarah sebagai agenda wajib tahunan.
“Ini sudah jadi kebiasaan keluarga setiap Lebaran,” tambahnya.
Hal senada disampaikan Agus Hermano (54) yang berziarah ke makam orang tuanya di TPU Cieunteung.
“Setiap tahun kami sekeluarga rutin berziarah. Ini bentuk penghormatan sekaligus mendoakan orang tua,” tuturnya.
Di Kota Tasikmalaya, ziarah Lebaran tampaknya tak sekadar tradisi.
Ia menjelma paket lengkap: ruang refleksi, ajang kumpul keluarga, sekaligus ujian kesabaran di tengah kemacetan yang—seperti biasa—datang tanpa diundang, tapi selalu hadir tepat waktu. (rezza rizaldi)
