Paolo Di Canio: Leao Lebih Senang di Studio Rekaman dibandingkan di Lapangan

Paolo Di Canio
Paolo Di Canio Foto: Tangkapan layar Youtube
0 Komentar

RADARTASIK.ID – Mantan pemain sekaligus komentator sepak bola Italia, Paolo Di Canio, kembali melontarkan kritik tajam terhadap bintang AC Milan, Rafael Leao.

Komentar itu disampaikan Di Canio di sela-sela ajang Legends Trophy, sebuah turnamen padel yang mempertemukan para mantan pemain top di Milan.

Pernyataannya, yang dikutip dari Milan News, langsung menyita perhatian karena menyinggung sikap dan profesionalisme Leao di dalam maupun luar lapangan.

Baca Juga:Arsenal Ancam Pupuskan Impian AC Milan Datangkan Leon GoretzkaAC Milan dan Juventus Berebut Datangkan Gabriel Jesus

Menurut Di Canio, Leao sejatinya bukanlah seorang penyerang tengah murni. Namun, ia mengakui bahwa pemain asal Portugal tersebut lebih efektif ketika dimainkan lebih dekat ke gawang.

“Dia memang seorang penyerang. Tentu lebih baik baginya bermain sebagai ujung tombak karena dia bisa mencetak lebih banyak gol dengan usaha yang lebih sedikit. Di Italia, itu relatif mudah—cukup satu umpan ke depan, dan dengan pertahanan yang tidak selalu solid, cepat atau lambat peluang akan datang,” ujar Di Canio.

Meski demikian, ia menyoroti kontribusi Leao secara keseluruhan dalam permainan tim.

Bagi Di Canio, sepak bola bukan hanya soal mencetak gol, melainkan bagaimana seorang pemain terlibat aktif dalam setiap fase pertandingan.

“Masalahnya adalah apa yang dia hasilkan sepanjang pertandingan, di luar gol yang dia cetak. Jika saya punya pemain yang malas tapi bisa mencetak tiga gol per laga, mungkin saya akan menerimanya. Tapi Milan tidak bisa berpikir seperti itu,” tegasnya.

Di Canio kemudian membandingkan pendekatan permainan tim yang ideal. Ia mencontohkan bagaimana kerja sama kolektif bisa menghasilkan gol, dengan setiap pemain saling berbagi peran dan ruang.

Dalam skema tersebut, semua pemain berkontribusi dan saling menghargai, termasuk dalam momen selebrasi.

Baca Juga:Jurnalis Italia: Massara Akan Jadi Kambing Hitam Jika AS Roma Gagal Lolos ke Liga ChampionsMedia Italia: Spalletti Minta Juventus Rekrut Kapten AS Roma

“Itulah sepak bola tim—kesatuan tujuan, saling menghormati, dan bermain untuk satu sama lain,” lanjutnya.

Namun, kritik paling tajam Di Canio diarahkan pada sikap Leao di luar lapangan. Ia menilai pemain berusia 20-an itu kerap terlihat tidak fokus sepenuhnya pada sepak bola.

“Saya bahkan kesal dengan Leao. Dengan tinggi 1,88 meter, kecepatan, dan teknik luar biasa, dia seharusnya bisa memberikan lebih untuk tim. Tapi sering kali kita bertanya, ‘Apa yang dia pikirkan?’ Apakah dia memikirkan studio rekaman untuk bernyanyi?” sindir Di Canio.

0 Komentar