Ironisnya, pada periode yang sama, Juventus justru melepas Dean Huijsen hanya dengan €15 juta (Rp255 miliar), sebelum akhirnya dijual kembali oleh klub barunya ke Real Madrid dengan nilai melonjak hingga €60 juta (Rp1,02 triliun).
Memasuki musim 2025/2026, pola yang sama kembali terlihat.
Juventus menebus Francisco Conceicao dengan total €40 juta (Rp680 miliar) dan berpotensi mengeluarkan €46 juta (Rp782 miliar) untuk Lois Openda—meski pemain tersebut disebut-sebut akan segera dilepas.
Sementara itu, Jonathan David memang didatangkan secara gratis, tetapi tetap menelan biaya tambahan sekitar €12 juta (Rp204 miliar).
Baca Juga:Ulah Fans AC Milan dan Inter Buat Gattuso Tak Mau Italia Bermain di San SiroPaolo Di Canio: Leao Lebih Senang di Studio Rekaman dibandingkan di Lapangan
Nama lain seperti Edon Zhegrova (€15 juta/Rp255 miliar) dan Joao Mario (€12 juta/Rp204 miliar) bahkan tidak memberikan dampak signifikan.
Dari sekian banyak investasi besar tersebut, hanya Gleison Bremer yang dinilai benar-benar memenuhi ekspektasi, setelah direkrut dengan biaya €51 juta (Rp867 miliar).
Data dan fakta ini memperkuat kesimpulan utama laporan tersebut: Juventus bukan kekurangan dana.
Dengan dukungan finansial besar dari pemegang saham, klub justru memiliki sumber daya yang melimpah.
Masalahnya terletak pada bagaimana dana tersebut digunakan. Kesalahan dalam perekrutan, penilaian pemain, hingga strategi jangka panjang membuat investasi besar tidak sebanding dengan hasil di lapangan.
Jika situasi ini terus berlanjut, Juventus bukan hanya berisiko tertinggal dalam perburuan gelar, tetapi juga menghadapi tantangan serius dalam membangun kembali kejayaan mereka di kancah sepak bola Italia dan Eropa.
