RADARTASIK.ID – Kritik tajam datang dari media Italia terhadap kebijakan transfer Juventus dalam beberapa musim terakhir.
Dalam analisis mendalam yang dirilis La Gazzetta dello Sport, disebutkan bahwa masalah utama Bianconeri bukanlah kekurangan dana, melainkan cara membelanjakannya yang dinilai tidak efektif.
Dalam enam musim terakhir, sejak terakhir kali menjuarai Serie A pada 2020, Juventus tercatat telah menghabiskan total sekitar €875 juta atau setara Rp14,87 triliun (kurs €1 = Rp17.000).
Baca Juga:Ulah Fans AC Milan dan Inter Buat Gattuso Tak Mau Italia Bermain di San SiroPaolo Di Canio: Leao Lebih Senang di Studio Rekaman dibandingkan di Lapangan
Angka tersebut mencakup biaya transfer langsung, komisi agen, bonus, hingga biaya tambahan dalam skema peminjaman pemain.
Menariknya, laporan ini hanya menghitung pemain yang benar-benar pernah tampil untuk tim utama Juventus.
Artinya, sejumlah nama yang langsung dipinjamkan atau dijual kembali tidak masuk dalam perhitungan tersebut.
Di sisi lain, para pemegang saham klub—terutama Exor—telah melakukan empat kali suntikan dana (rekapitalisasi) sejak 2019 dengan total mencapai €998 juta atau sekitar Rp16,97 triliun.
Ini semakin menegaskan bahwa secara finansial, Juventus sebenarnya berada dalam kondisi yang cukup kuat.
Menurut laporan yang ditulis jurnalis Marco Iaria, persoalan utama Juventus justru terletak pada strategi investasi pemain yang berulang kali keliru, terutama dalam pembelian dengan nilai besar.
Sejak era kepemimpinan Andrea Agnelli hingga pergantian manajemen yang melibatkan nama-nama seperti Fabio Paratici, Maurizio Arrivabene, Maurizio Scanavino, Federico Cherubini, hingga Cristiano Giuntoli, pola kesalahan yang sama terus berulang.
Baca Juga:Arsenal Ancam Pupuskan Impian AC Milan Datangkan Leon GoretzkaAC Milan dan Juventus Berebut Datangkan Gabriel Jesus
Pada musim 2020/2021, Juventus menggelontorkan €80 juta (Rp1,36 triliun) untuk Arthur Melo—dalam skema tukar tambah dengan Miralem Pjanic—serta €54 juta (Rp918 miliar) untuk Federico Chiesa.
Setahun kemudian, klub mendatangkan Dusan Vlahovic dengan harga €85 juta (Rp1,45 triliun), menjadikannya salah satu transfer termahal dalam sejarah klub.
Sementara Manuel Locatelli direkrut dengan biaya €35 juta (Rp595 miliar).
Namun, puncak kritik tertuju pada bursa transfer musim 2024/2025. Sejumlah pemain mahal seperti Teun Koopmeiners (€53 juta/Rp901 miliar), Douglas Luiz (€49 juta/Rp833 miliar), Nico Gonzalez (€37 juta/Rp629 miliar), hingga Lloyd Kelly (€22 juta/Rp374 miliar) dinilai gagal memenuhi ekspektasi.
