RADARTASIK.ID – Presiden Inter Milan, Beppe Marotta, akhirnya angkat bicara terkait penurunan performa timnya dalam beberapa pekan terakhir.
Meski mengakui adanya kemunduran, Marotta menegaskan bahwa situasi yang dialami Nerazzurri sama sekali bukan sebuah “psikodrama”.
Inter memang tengah mengalami periode kurang meyakinkan. Sepanjang Maret, tim asuhan Cristian Chivu belum meraih kemenangan, termasuk hasil imbang di markas Fiorentina.
Baca Juga:Paolo Di Canio: Leao Lebih Senang di Studio Rekaman dibandingkan di LapanganArsenal Ancam Pupuskan Impian AC Milan Datangkan Leon Goretzka
Dampaknya, keunggulan mereka di puncak klasemen Serie A mulai terpangkas, dengan selisih kini tinggal enam poin dari AC Milan dan tujuh poin dari Napoli.
Namun bagi Marotta, situasi ini masih dalam batas wajar dalam dinamika kompetisi panjang.
“Kami berada di fase tertentu musim ini. Fakta bahwa kami masih memimpin dengan keunggulan enam poin adalah sesuatu yang bahkan mungkin tidak kami bayangkan sebelumnya,” ujarnya kepada media di sela agenda resmi liga.
Ia juga menyoroti bahwa Inter tetap berada di jalur positif dengan keberhasilan menembus semifinal Coppa Italia.
Menurutnya, dari tiga target utama musim ini, dua di antaranya dinilai sudah berada di jalur yang tepat.
Meski demikian, Marotta tidak menutup mata terhadap penurunan performa tim.
Ia menyebut kondisi ini bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari cedera pemain hingga kelelahan akibat padatnya jadwal.
“Kami memang sedang mengalami sedikit penurunan performa. Bisa karena cedera, bisa juga karena kelelahan. Tapi ini juga terjadi pada tim-tim lain. Yang terpenting, kami tidak mencari alasan dan tetap fokus menyelesaikan musim dengan baik,” tegasnya.
Baca Juga:AC Milan dan Juventus Berebut Datangkan Gabriel JesusJurnalis Italia: Massara Akan Jadi Kambing Hitam Jika AS Roma Gagal Lolos ke Liga Champions
Salah satu pernyataan paling menarik dari Marotta adalah ketika ia menepis anggapan bahwa Inter sedang mengalami “psikodrama”.
Dalam konteks olahraga, psikodrama bukan berarti drama biasa, melainkan kondisi ketika tekanan mental, kecemasan, dan ketegangan emosional memengaruhi performa individu maupun tim secara signifikan.
Istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan situasi di mana masalah psikologis—seperti rasa takut gagal, tekanan dari publik, atau konflik internal—membuat tim kehilangan stabilitas dan kepercayaan diri.
