“Dia sampai memperdebatkan soal makanan penutup dengan pelatih dan dokter tim, lalu melarangnya. Tapi di hari itu juga, kami menemukan sosok Ruud Gullit,” ungkapnya.
Galli menambahkan, Berlusconi langsung terkesan dengan Gullit dan berkata bahwa ia adalah “pemain Milan”.
Setahun kemudian, pemain asal Belanda itu benar-benar direkrut, bersama Marco van Basten dan pelatih Arrigo Sacchi.
Baca Juga:Media Italia: Juventus Tak Kekurangan Uang, Mereka Cuma Tak Becus MembelanjakannyaShevchenko Minta Leao dan Pulisic Tidak Egois: Mereka Harus Saling Beradaptasi
“Sacchi bahkan diambil dari Serie B. Itu keputusan yang berani, tapi ternyata sangat tepat,” katanya.
Berlusconi, lanjut Galli, memiliki filosofi yang jelas: Milan harus menang dengan cara yang menghibur.
Ia ingin membawa klub ke puncak kejayaan, bukan hanya di Italia, tetapi juga di Eropa dan dunia.
“Dia sering mengatakan bahwa kami harus menang sambil menghibur. Targetnya jelas—menjadikan Milan yang terbaik di Italia, Eropa, dan dunia. Dan kami berhasil melakukannya,” pungkas Galli.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa kesuksesan besar Milan di era tersebut bukan hanya soal pemain bintang, tetapi juga visi kuat dari seorang pemimpin yang percaya bahwa timnya memang ditakdirkan untuk menang.
