RADARTASIK.ID – Harga emas dunia kembali mengalami tekanan tajam pada perdagangan Selasa, 24 Maret 2026, setelah munculnya kabar yang saling bertentangan mengenai negosiasi gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
Investor global tampak berhati-hati, menimbang ketidakpastian geopolitik yang bisa memengaruhi pasar komoditas.
Emas Kembali Anjlok
Dilansir situs Investing.com, emas spot terakhir tercatat turun 0,6 persen menjadi $4.380,59 per ons, sementara kontrak berjangka emas AS juga melemah 0,6 persen ke level $4.413,09.
Baca Juga:BPJS Ketenagakerjaan Beri Diskon 50 Persen Iuran bagi Pekerja Bukan Penerima UpahDosen Unsil Kenalkan Teknologi IoT untuk Monitoring Nira Aren di Salawu
Sebelumnya, logam kuning ini sempat menyentuh titik terendah dalam empat bulan terakhir, sebelum memangkas sebagian kerugian dan menutup sesi dengan penurunan sekitar 2 persen.
Awal pekan ini, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menunda ancaman terhadap infrastruktur energi Iran, dengan alasan telah melakukan pembicaraan yang dinilai produktif bersama pejabat Iran yang tidak diungkap identitasnya.
Pengumuman ini sempat menekan harga minyak dan membantu emas memangkas kerugiannya sementara.
Namun, klaim tersebut segera dibantah oleh juru bicara parlemen Iran, yang menegaskan melalui media sosial bahwa tidak ada negosiasi semacam itu.
Iran justru meluncurkan beberapa gelombang rudal ke Israel, menandakan tidak adanya tanda-tanda mereda dalam ketegangan.
Akibatnya, harga minyak kembali melonjak, dengan kontrak Brent untuk pengiriman Mei naik 3,0 persen menjadi $102,95 per barel.
Lonjakan harga energi telah memperkuat kekhawatiran inflasi tetap tinggi, memaksa pasar menurunkan ekspektasi pelonggaran moneter.
Baca Juga:Hindari Kebiasaan Pegang Behel Belakang, Ini Cara Aman Berboncengan Sepeda MotorBukan Hanya Hobi, Komunitas Honda ADV Indonesia Chapter Purwakarta Buktikan Kepedulian di Ramadan
Investor pun semakin bersiap bahwa bank sentral, termasuk Federal Reserve, akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari perkiraan sebelumnya.
Emas, sebagai aset non-yielding, cenderung kurang diminati ketika suku bunga naik, karena instrumen berbunga seperti obligasi pemerintah menawarkan keuntungan yang lebih menarik.
Sementara itu, indeks dolar AS menguat 0,5 persen menjadi 99,39, menambah tekanan pada harga emas karena dolar yang lebih kuat membuat emas menjadi lebih mahal bagi pembeli internasional.
Kombinasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan ekspektasi suku bunga tinggi menjadi faktor utama yang membayangi prospek emas dalam beberapa minggu ke depan.
Investor disarankan untuk terus memantau perkembangan harga energi, pergerakan dolar, serta setiap langkah diplomasi antara AS dan Iran yang berpotensi mengubah sentimen pasar secara drastis.
