Wali kota juga meminta pengawasan diperketat di sejumlah titik rawan seperti Indihiang, Karang Resik, Manonjaya, hingga kawasan Ampera dan pusat kota.
Apresiasi juga datang dari kalangan ulama.
Pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Huda Jarnauziah, KH Muhammad Yanyan Al-Bayani, menilai pemusnahan miras sebagai langkah konkret menjaga moralitas masyarakat.
“Ini langkah nyata yang patut diapresiasi. Tapi jangan cepat puas, karena potensi peredaran miras masih ada,” katanya.
Baca Juga:Sasana Boxing Rangkul Anak Muda Kota Tasikmalaya, Tebar Ratusan Takjil di Jalan RayaIdul Fitri Muhammadiyah di Kota Tasikmalaya, Khotib Tekankan Persatuan
Ia menekankan pentingnya konsistensi penegakan hukum serta sinergi lintas sektor agar cita-cita menjadikan Kota Tasikmalaya sebagai wilayah zero miras tidak berhenti pada jargon.
“Malam takbiran itu sakral, bukan ajang euforia yang mencederai nilai ibadah,” tandasnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri unsur Forkopimda, Ketua DPRD Kota Tasikmalaya, tokoh ulama, hingga elemen masyarakat.
Semua sepakat: menjaga Tasik tetap religius bukan hanya tugas aparat, tetapi juga tanggung jawab bersama.
Di tengah denting botol yang dihancurkan, pesan yang tersisa cukup jelas—perang melawan miras belum selesai, hanya sedang diingatkan kembali. (rezza rizaldi)
