RADARTASIK.ID— Arema FC melaunching jersey keempat berwarna putih menjelang Lebaran 2026.
Saat BRI Super League 2025/26 memasuki jeda untuk menyambut Idulfitri, banyak klub memilih meredam aktivitas dan memberi ruang istirahat.
Namun Arema FC justru mengambil jalur berbeda—melangkah ke luar batas lapangan, menghadirkan makna baru dari sebuah identitas tim.
Baca Juga:Persija Melakukan Evaluasi Usai Terpeleset dari Dewa United di JIS, Meminta Para Pemain Tetap TenangSoal Ini Langkah Persib dan Persija Jakarta Kompak, Bojan Hodak dan Mauricio Souza Pilih Hal yang SamaÂ
Klub asal Malang itu memperkenalkan jersey keempat yang akan dikenakan hingga akhir musim.
Warna putih yang mendominasi, dipadu aksen abu-abu tipis, menciptakan kesan hening sekaligus reflektif—sebuah simbol harapan baru di tengah perjalanan tim yang masih berupaya menemukan konsistensi.
Hingga pekan berjalan, Arema bertahan di papan tengah, menempati posisi ke-11 dengan koleksi 31 poin, jauh dari hiruk-pikuk perebutan gelar namun tetap menyimpan ambisi untuk menutup musim dengan terhormat.
Namun, arti jersey ini melampaui estetika dan fungsi taktis.
Manajemen memutuskan menjadikannya sebagai pengganti seragam tandang untuk sisa kompetisi—sebuah keputusan yang tidak semata didorong kebutuhan teknis, melainkan kesadaran akan peran sosial klub di tengah komunitasnya.
Manager Store Arema FC, Tjiptadi Purnomo, menegaskan bahwa peluncuran jersey ini membawa pesan yang lebih dalam.
Ia menjelaskan bahwa seragam tersebut bukan hanya menghadirkan tampilan baru di lapangan, tetapi juga menjadi simbol kepedulian dan kebersamaan, sekaligus penegasan bahwa Arema FC dan Aremania akan terus berdiri bersama dalam situasi apa pun.
Komitmen itu tidak berhenti pada narasi. Klub memastikan seluruh keuntungan bersih dari penjualan jersey tersebut akan disalurkan kepada keluarga korban secara merata dan berkelanjutan setiap bulan.
Baca Juga:Usai Gagal Menang di Kandang, Persija Solidkan Skuad untuk Menghadapi Laga-Laga Penting di DepanTiba-Tiba Adam Alis Minta Maaf Usai Cetak Gol Bersejarah untuk Persib Bandung di Markas Borneo FC
Tjiptadi menuturkan bahwa langkah ini merupakan bentuk tanggung jawab moral sekaligus solidaritas nyata, dengan harapan bantuan yang diberikan dapat dirasakan secara terus-menerus, bukan sekadar sesaat.
Dengan demikian, jersey keempat ini menjelma lebih dari sekadar atribut pertandingan.
Ia berubah menjadi medium empati—sebuah gerakan kolektif yang menghubungkan klub dengan Aremania di berbagai penjuru.
Di tengah jeda kompetisi, Arema tidak hanya menjaga ritme tim, tetapi juga merawat ikatan sosial yang selama ini menjadi denyut nadi keberadaannya.
