Fenomena Bayi Tanpa Status di Kota Tasikmalaya: Dititipkan karena Stigma dan Tak Siap

fenomena bayi tanpa status di Kota Tasikmalaya
Pengurus Panti Asuhan Yamu’ti, Irma Arliyanti, menunjukkan kondisi bayi yang sedang dirawatnya. Ayu Sabrina Barokah / Radar Tasikmalaya
0 Komentar

“Kami berkepentingan menyelamatkan anak-anak. Daripada terlantar, lebih baik dititipkan dulu,” ujarnya.

Dalam operasionalnya, Irma dibantu tujuh relawan. Namun, yang setiap hari berjaga hanya dirinya bersama sang suami. Tempat pengasuhan yang digunakan pun jauh dari kata ideal—memanfaatkan bangunan bekas pabrik meubel milik keluarga.

Meski begitu, aktivitas pengasuhan tetap berjalan, ditopang kemampuan seadanya dan uluran tangan para donatur. Sebuah ironi, di tengah banyaknya wacana besar tentang moralitas, justru kerja-kerja sunyi seperti ini yang menopang dampaknya.

Baca Juga:Pemancing Hilang di Kota Tasikmalaya Ditemukan, Sungai Ciwulan Tak Banyak BicaraJudul Konser Berubah-ubah, Netizen Kota Tasikmalaya Kian Ramai Menyentil

Irma juga menegaskan kehati-hatian dalam proses adopsi. Ia tak ingin niat baik berubah menjadi celah persoalan hukum, termasuk potensi tudingan perdagangan manusia.

“Kami harus sangat hati-hati. Semua harus melalui prosedur resmi,” katanya.

Baginya, setiap bayi yang datang adalah amanah—bukan sekadar angka dalam statistik sosial. Selama masih ada yang membutuhkan tempat berlindung, pintu yayasan akan tetap terbuka.

“Yang penting mereka selamat dulu dan punya tempat hidup,” ujarnya. (ayu sabrina barokah)

0 Komentar