Saya bertanya:l, apa rahasia bisnisnya Jawabannya agak aneh. “Jangan terlalu fokus ke pendapatan,” katanya.
Saya terdiam. Banyak pengusaha justru mengejar angka. Ia melanjutkan, yang harus dipelototi itu prosesnya.
Kalau prosesnya benar, katanya, pendapatan akan datang sendiri. Besar atau kecil tergantung tiga hal: insting, intuisi, dan momentum.
Baca Juga:Tim Gabungan Bea Cukai Tasikmalaya dan Jabar Gagalkan Peredaran 664 Ribu Batang Rokok Ilegal di Dua LokasiAlarm Amir Mahpud!
Jawaban itu terdengar seperti teori bisnis. Tapi disampaikan dengan cara yang sangat santai.
Diskusi lalu bergeser ke politik. Ini bagian yang paling menarik. H Amir bercerita tentang hubungannya dengan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto. Katanya hubungan mereka bukan sekadar hubungan politik. “Ini ikatan batin,” ujarnya.
Ia bercerita panjang tentang perjalanan bersama Prabowo. Tentang masa-masa yang tidak selalu mudah. Tentang loyalitas yang diuji waktu. Nada suaranya tidak dramatis. Tapi terasa jujur.
Lalu kami masuk ke wilayah yang lebih sensitif: politik daerah. H Amir berbicara cukup terbuka. Ia menjelaskan berbagai kemungkinan peta politik ke depan. Nama-nama muncul. Strategi juga.
Sesekali ia tertawa. “Saya jelaskan saja,” katanya. Lalu ia berhenti. “Tapi jangan ditulis,” tambahnya. “Itu rahasia dapur.” Kami pun tertawa. Di dunia politik, dapur memang sering lebih panas daripada ruang makan.
Di tengah diskusi, datang hidangan yang tidak kalah menarik. Semangkuk bakso. Bakso sapi khas Mandalawangi. Menurut H Amir, bakso itu dibuat dari 100 persen daging sapi. Tidak ada campuran aneh-aneh.
Dan uniknya, bakso itu hanya muncul kalau ia sedang berada di Tasikmalaya. Saya mencicipinya. Harus diakui: rasanya luar biasa. Kenyal. Lembut. Aromanya kuat. Ini bukan bakso biasa.
Baca Juga:Viman-Diky Kembali Catatkan Sejarah: Hadapi Lebaran ASN Kota Tasik Menjerit!Doktor Otoy
Bahkan Jeni Jayusman sampai menambah dua kali. Ia mengaku selama Ramadan hampir tidak pernah makan bakso.
“Tapi kalau di Mandalawangi beda,” katanya. Segar. Katanya lagi. Menjernihkan. Saya tidak tahu apakah yang dijernihkan pikirannya atau perutnya.
Obrolan terus berjalan. Jam bergerak diam-diam. Tanpa terasa malam berubah menjadi dini hari. Waktu sahur sudah tidak jauh. Diskusi masih hangat. Tapi tubuh mulai mengingatkan bahwa besok tetap ada pekerjaan.
