Sebelumnya, polemik konser ini mencuat setelah mendapat kritik dari Ketua MUI Kota Tasikmalaya, KH Muhammad Aminudin Bustomi.
Ia menilai tajuk awal “Melepas Penat” kurang tepat dengan suasana religius pasca-Ramadan.
Menurutnya, momentum setelah Ramadan seharusnya diisi dengan refleksi spiritual, bukan justru menghadirkan hiburan yang dinilai tidak tepat dengan suasana religius masyarakat Kota Tasikmalaya.
Baca Juga:ASN Kota Tasikmalaya “Ngadu” di Instagram, Kritik Fiskal Pemkot Kian PedasRatusan Pemudik Datangi Polres Tasikmalaya Kota: Ikut Mudik Gratis, Tujuan Dominan Solo
“Ini baru terjadi di Kota Tasik ya. Tajuknya saja sudah provokatif. Penat dari apa? Dari perang Iran sama Amerika atau dari apa?” ujar KH Aminudin dengan nada satir kepada Radar, Senin (9/3/2026).
Menanggapi hal tersebut, pihak promotor dari Shaolin Music menyatakan bahwa kegiatan ini bertujuan menghadirkan hiburan positif bagi masyarakat.
Perwakilan promotor dari Shaolin Music, Santo, menilai tajuk acara “Melepas Penat” yang sebelumnya digunakan sebenarnya tidak bermasalah.
Menurutnya, konsep konser dengan tajuk tersebut bukan hal baru. Kegiatan serupa bahkan sudah digelar di puluhan kota sejak beberapa tahun terakhir.
“Keritik atas dasar apa ya? Program ‘Melepas Penat’ ini sudah lebih dari 80 kota sejak 2022. Kami tur di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Di wilayah Priangan juga sudah pernah, seperti Banjar, Pangandaran, dan Ciamis,” ujarnya saat dikonfirmasi Radar, Jumat (13/3/2026).
Ia mengatakan, penggunaan tagline dalam sebuah event hiburan merupakan hal yang wajar dalam dunia promosi.
“Ya mau buat tagline apa pun menurut kami sah-sah saja. Jadi sebenarnya salahnya di mana?” katanya.
Baca Juga:Swasta Telat THR Dihukum, Kalau Pemkot Tasikmalaya yang Lambat Siapa yang Menegur!Alarm MBG Jawa Barat Berbunyi, IKA PMII Tasikmalaya Sindir Dapur Kader
Meski demikian, Santo mengakui pihaknya memahami jika ada masukan dari MUI terkait momentum pelaksanaan yang berdekatan dengan Lebaran.
Ia menduga kritik yang muncul lebih berkaitan dengan waktu penyelenggaraan acara. Mungkin momennya karena sepekan setelah Lebaran.
Santo menegaskan tujuan kegiatan tersebut semata untuk menghadirkan hiburan positif bagi masyarakat, bukan memancing kontroversi.
“Menurut saya positif saja. Kami hanya ingin menghibur masyarakat dengan cara yang positif. Semua hari bagi kami adalah waktu yang baik untuk menghadirkan hiburan,” terangnya.
Ia juga menyinggung bahwa suasana setelah Lebaran justru identik dengan momen berkumpul bersama keluarga.
