TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID—Proses pengukuhan biasanya terjadi di ruangan tertutup yang nyaman seperti di aula, auditorium dan lainnya. Namun langkah berbeda dilakukan oleh aktivis dari Badan Eksekutif Mahasiswa se-Tasikmalaya (BEMSETAS) resmi dikukuhkan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Nangkaleah, Desa Sukasukur, Kecamatan Mangunreja, Kabupaten Tasikmalaya, Senin (16/3/2026).
Pengukuhan yang digelar di tengah kawasan pengelolaan sampah tersebut bukan karena mereka tidak bisa melakukannya di tempat mewah gedung. Ada simbol dan nilai-nilai kepedulian terhadap yang ingin mereka sampaikan, termasuk dilakukannya aksi penanaman 100 bibit pohon.
Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan 24 BEM dan DEMA se-Kabupaten/Kota Tasikmalaya, tokoh masyarakat setempat, Kepala Bidang Lingkungan Hidup Kabupaten Tasikmalaya, serta perwakilan Cabang Dinas Kehutanan Wilayah VI.
Baca Juga:Lebaran Dulu, Protes Kemudian!JANTUR! Menyingkap Legenda Dadaha Lewat Pertunjukan Teater Malam Ini
Berdasarkan informasi di lapangan, TPA Nangkaleah memiliki luas sekitar 7,5 hektare, dengan timbunan sampah yang telah menggunung dan menutupi area kurang lebih 1,5 hektare. Kondisi tersebut menjadi gambaran nyata persoalan lingkungan yang dihadapi daerah.
Dalam pengukuhan tersebut, struktur BEMSETAS terdiri dari Koordinator Pusat, Sekretaris Pusat, Koordinator Media, serta enam bidang koordinator isu yang akan menjadi fokus gerakan mahasiswa ke depan.
Ketua pelaksana kegiatan, Trendi Hidayat Ajij, menyampaikan bahwa pemilihan lokasi di TPA Nangkaleah merupakan bentuk kesadaran kolektif mahasiswa untuk melihat langsung realitas lingkungan.
“Pengukuhan ini sengaja dilaksanakan di TPA sebagai simbol bahwa persoalan lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Mahasiswa tidak boleh hanya berdiskusi di ruang kelas, tetapi harus hadir langsung di tengah persoalan yang nyata,” ujarnya.
Ia menambahkan, kondisi lingkungan di Tasikmalaya saat ini membutuhkan perhatian serius dan keterlibatan aktif berbagai pihak, termasuk mahasiswa sebagai agen perubahan sosial.
Sementara itu, Koordinator Pusat BEMSETAS, Yadi, menegaskan pentingnya gerakan mahasiswa yang lebih konkret dan berbasis realitas.
“Sudah saatnya gerakan mahasiswa hari ini melakukan hal-hal yang konkret dengan melihat realitas secara objektif. Termasuk bagaimana kita melihat langsung kondisi TPA yang seharusnya menjadi refleksi bersama. Persoalan lingkungan bukan hanya tentang mengkritik pemerintah, tetapi bagaimana kita berembuk, melingkar, dan bersama-sama mencari solusi,” ungkapnya.
