Lebaran Dulu, Protes Kemudian!

Protes Bale Kota Tasikmalaya
Sejumlah aktivis dan personel Satpol Pp menurunkan terpal tenda aksi sebagai bentuk penghormatan suasana akhir Ramadan menjelang Idulfitri.
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADATASIK.ID – Ada yang berbeda di depan Kantor Wali Kota Tasikmalaya malam ini. Biasanya, di ujung Ramadan, orang sibuk berburu takjil. Atau menyiapkan mudik. Tapi di sana, yang terlihat justru sekelompok orang sedang membongkar tenda.

Bukan tenda hajatan.Bukan pula tenda bazar. Itu Tenda Perjuangan. Sudah hampir tiga pekan berdiri di situ. Tepat di depan kantor Wali Kota Tasikmalaya. Terpalnya mulai kusam. Talinya sudah beberapa kali diganti. Tapi semangat penghuninya—kata mereka—belum kusam.

Minggu malam (15/3/2026), tenda itu akhirnya diturunkan. Pelan-pelan. Beberapa aktivis menggulung terpal. Sebagian lain melipat rangka besi. Aparat ikut membantu.

Baca Juga:JANTUR! Menyingkap Legenda Dadaha Lewat Pertunjukan Teater Malam IniKecelakaan Laut Jadi Perhatian Khusus, Persiapkan Keamanan Objek Wisata di Pengandaran Menjelang Lebur Lebaran

Tidak ada teriakan. Tidak ada dorong-dorongan. Semuanya berjalan seperti orang sedang membereskan panggung setelah pertunjukan. Aksi selesai. Untuk sementara.

Ketua LSM Peradaban Demokrasi Indonesia (PADI) Kota Tasikmalaya, Iwan Restiawan, berdiri di depan tenda yang tinggal separuh. Ia bicara pelan. Seperti orang yang baru selesai menempuh perjalanan jauh.

Menurutnya, aksi itu bukan tiba-tiba muncul. Ia menyebutnya sebagai akumulasi kekecewaan. Sebab selama hampir tiga minggu mereka menunggu satu hal: kehadiran wali kota dalam forum audiensi.Itu tidak terjadi. “Selama aksi berlangsung kami berharap ada komunikasi langsung,” kata Iwan.

Harapan itu tidak datang. Sampai akhirnya Ramadan hampir selesai. Di kota santri seperti Tasikmalaya, Ramadan punya aturan tak tertulis, suasana harus teduh. Tidak gaduh.

Karena itu banyak tokoh ikut memberi saran. Ulama. Tokoh masyarakat. Termasuk beberapa pejabat keamanan. Nama-nama itu disebut Iwan satu per satu. Kang Yanto Oce, Kapolresta Tasikmalaya AKBP Andi Purwanto, juga pendekatan persuasif dari Satpol PP. Akhirnya diputuskan. tenda dicabut dulu.

Bukan menyerah. Hanya jeda. “Ini bentuk penghormatan terhadap suasana akhir Ramadan dan menjelang Idulfitri,” ujar Iwan. Kalimat itu terdengar seperti orang yang menutup buku di tengah halaman.

Belum selesai dibaca. Ketua Ormas Gibas Resort Kota Tasikmalaya, Agus Ridwan, bahkan langsung menegaskan, perjuangan belum selesai. Ia menyebut pencabutan tenda hanyalah cuti Lebaran. Setelah itu, gerakan akan kembali. “Bahkan lebih progresif,” katanya.

0 Komentar