RADARTASIK.ID— Selepas rangkaian pertandingan padat di kompetisi Liga 1 Indonesia musim 2025/26, ruang ganti Persebaya Surabaya akhirnya mendapat jeda napas.
Sekitar dua pekan tanpa pertandingan dimanfaatkan tim pelatih untuk melakukan evaluasi menyeluruh—bukan hanya pada taktik, tetapi juga pada kondisi fisik dan mental para pemain.
Pelatih kepala Persebaya, Bernardo Tavares, melihat jeda kompetisi sebagai kesempatan penting untuk memulihkan energi skuadnya.
Baca Juga:Emaxwell Souza Buka Suara Usai Gagal Penalti ke Gawang Dewa United hingga Persija Gagal Pepet Persib BandungBawa 1 Poin dari Borneo FC, Kapten Persib Marc Klok Menjanjikan Perbaikan saat Melawan Semen Padang
Ia memutuskan memberi waktu bagi para pemain untuk beristirahat sejenak sebelum kembali menjalani fase persiapan berikutnya.
Menurutnya, masa rehat tersebut harus menjadi momentum untuk kembali dengan kondisi yang lebih kuat, tidak hanya dari sisi fisik, tetapi juga dari ketahanan mental.
Bagi pelatih asal Portugal itu, jeda kompetisi tidak sekadar jeda dari pertandingan.
Ia menganggapnya sebagai periode refleksi setelah perjalanan tim yang penuh dinamika sepanjang musim.
Persebaya memang datang ke masa rehat dengan luka yang masih terasa.
Pada pertandingan terakhir sebelum jeda, Bajul Ijo harus menelan kekalahan telak 1-5 saat bertandang ke markas Borneo FC Samarinda di Stadion Segiri.
Hasil tersebut menjadi salah satu kekalahan terbesar Persebaya sepanjang musim ini.
Baca Juga:Bojan Hodak Bicara Peta Persaingan Juara Super League Usai Persib dan Persija Hanya Dapat 1 Poin Tambahan Perasaan Berguinho Melawan Mantan Klub, Borneo FC, Kini Jadi Top Assist Bagi Persib Bandung
“Kami memutuskan untuk memberikan waktu kepada para pemain sebelum kembali mempersiapkan diri. Target kami adalah kembali lebih kuat, tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara mental,” ujar Tavares.
Tavares tidak menutupi rasa kecewa yang muncul setelah laga tersebut.
Namun ia menilai kekalahan itu justru memicu tekad para pemain untuk bangkit.
Ia melihat para pemain menyadari bahwa hasil buruk tersebut harus dijadikan pelajaran penting untuk memperbaiki performa di pertandingan berikutnya.
Meski tim diberi waktu istirahat dari jadwal pertandingan, Tavares memastikan para pemain tidak sepenuhnya berhenti berlatih.
Bersama staf pelatih, ia menyusun program latihan khusus agar kondisi fisik para pemain tetap terjaga selama masa jeda.
Program tersebut dibagi dalam beberapa kelompok latihan kecil.
Setiap kelompok berada di bawah pengawasan anggota staf teknis yang bertanggung jawab memantau jalannya latihan, memastikan para pemain menjalankan program yang telah dirancang.
