Netizen Ramai-ramai Sentil Konser Pasca Lebaran di Kota Tasikmalaya

konser pasca Lebaran di Kota Tasikmalaya menuai kritik netizen
Tangkapan layar komentar netizen di media sosial soal konser musik di Kota Tasikmalaya pasca Lebaran. istimewa for radartasik.id
0 Komentar

Di sisi lain, ada pula netizen yang menyarankan dana kegiatan dialihkan ke kegiatan sosial.

“Alusna mah duit jariyahkeun ka yang benar-benar tidak mampu, daripada dipakai hura-hura,” tulis akun Eri Ruhimat.

Bahkan ada pula komentar bernada satire yang menyarankan acara konser diganti dengan program lain yang lebih sederhana.

Baca Juga:MTB Tebar Berkah Ramadan, Bagikan Ratusan Makanan dan Takjil di Kota TasikmalayaSafari Ramadan di Makodim Tasikmalaya: Pangdam Siliwangi Dorong Babinsa Mengaji, Waspai Judol dan Pinjol

“Bagi kaum mendang-mending, konsernya diganti saja sama MBG, kan tidak perlu perizinan,” tulis akun Ade Sunande.

Sebelumnya diberitakan, polemik konser yang akan digelar di Eks Terminal Cilembang tersebut muncul setelah Ketua MUI Kota Tasikmalaya KH Muhammad Aminudin Bustomi mengkritik tajuk awal acara “Melepas Penat”.

Ia menilai istilah tersebut kurang tepat dengan suasana religius masyarakat yang baru saja melewati Ramadan.

Menanggapi polemik tersebut, pihak promotor dari Shaolin Music menyatakan kegiatan tersebut bertujuan menghadirkan hiburan positif bagi masyarakat.

Bahkan pamflet acara yang beredar di media sosial kini telah mengalami perubahan.

Tajuk yang semula “Melepas Penat Tasikmalaya” diganti menjadi “Tasikmalaya Bersilaturahmi”.

Konser yang dijadwalkan berlangsung pada 28 Maret 2026 di Eks Terminal Cilembang itu rencananya akan menghadirkan penyanyi religi Haddad Alwi serta sejumlah musisi seperti Denny Caknan dan Guyon Waton.

Baca Juga:Ketua Gerindra Jabar Ingatkan Program MBG di Tasikmalaya: Kurangi Takaran Bisa DipidanaMuhammadiyah Lebaran 20 Maret, Ini Lokasi Salat Id di Kota Tasikmalaya

Perubahan tajuk ini dinilai sebagai upaya meredam polemik yang sempat memancing perdebatan di ruang publik Kota Tasikmalaya—sebuah kota yang, seperti kata netizen, sering kali lebih ramai berdebat di kolom komentar ketimbang di panggung konser. (rezza rizaldi/red)

0 Komentar