Jantur Sindir Konflik Agraria dan Krisis Lingkungan dari Mitos Dadaha Tasikmalaya

Teater kolosal Jantur kritik konflik agraria di Tasikmalaya
Pementasan teater kolosal Jantur oleh Budi Riswandi, di kampus Universitas Siliwangi. Sabtu malam (15/3/2026). Ayu Sabrina Barokah / Radar Tasikmalaya
0 Komentar

“Sebagian besar aktor sudah sering terlibat dalam garapan saya sebelumnya, jadi prosesnya tidak terlalu sulit. Hanya screening untuk melihat kecocokan karakter dan peran,” ujarnya.

Dalam konsep artistiknya, ruang pertunjukan disulap menjadi lanskap agraris.

Area parkir kampus berubah menjadi gambaran sawah dan kehidupan pedesaan.

Pada puncak adegan, alat berat seperti ekskavator dan dump truck masuk ke arena, menghadirkan simbol kuat tentang pembangunan yang kerap datang tanpa kompromi pada ruang hidup warga.

Metafora itu terasa gamblang: ketika pembangunan melaju tanpa rem nurani, tanah, sawah, dan ekosistem sering kali menjadi korban pertama.

Baca Juga:630 Ribu Guru Madrasah Swasta Terhalang PPPK, PGM Desak MenPAN-RB Tak Tutup MataLatih Bisnis Sekaligus Berbagi, Bazar Tebus Murah Mahasiswa Kewirausahaan UMB 

Sejumlah tokoh turut hadir menyaksikan pementasan tersebut, di antaranya Wakil Wali Kota Tasikmalaya Diky Chandra, Rektor Unsil Nundang Busaeri, sivitas akademika, serta pegiat seni dari berbagai komunitas.

Wakil Wali Kota Tasikmalaya Diky Chandra menilai pementasan tersebut sarat pesan filosofis tentang karakter manusia dan relasinya dengan lingkungan.

“Pagelaran seni ini sangat bagus, bahkan sudah bukan lagi kelas lokal. Ceritanya punya hikmah bahwa di dunia ini semua orang pintar, tapi ada yang memilih menjadi orang pintar merasa atau merasa pintar,” tuturnya.

Menurutnya, orang yang merasa pintar kerap lupa memikirkan dampak dari setiap keputusan, sementara orang yang benar-benar memahami pengetahuan akan mempertimbangkan masa depan tanpa mengorbankan adat, alam, dan lingkungan.

Ia juga menegaskan seni memiliki peran penting dalam membangun karakter generasi muda karena mampu menumbuhkan keseimbangan batin dan kepekaan sosial.

“Seni itu sangat dibutuhkan. Ada yang menganggap seni tidak penting, padahal justru seni bisa menciptakan keseimbangan. Orang yang memahami seni biasanya punya kepekaan lebih dalam melihat kehidupan,” tutur Diky.

Ia pun menyoroti kepemimpinan Bode yang mampu mengelola ratusan orang dalam satu produksi teater besar.

Baca Juga:Promotor Konser Jawab Masukan MUI: Tagline “Melepas Penat” Dinilai Tak Salah, Walaupun Kini BerubahGunung Jati Group Banjir Doa, 500 Warga Kota Tasikmalaya Buka Puasa Bersama

“Bode sudah memperlihatkan bagaimana seorang pemimpin mampu menggerakkan banyak orang untuk menciptakan harmoni. Pemimpin yang baik adalah yang bisa menyatukan banyak orang,” ucapnya.

Pementasan Jantur ditutup dengan tepuk tangan panjang dari penonton yang memadati area pertunjukan.

0 Komentar