Jantur Sindir Konflik Agraria dan Krisis Lingkungan dari Mitos Dadaha Tasikmalaya

Teater kolosal Jantur kritik konflik agraria di Tasikmalaya
Pementasan teater kolosal Jantur oleh Budi Riswandi, di kampus Universitas Siliwangi. Sabtu malam (15/3/2026). Ayu Sabrina Barokah / Radar Tasikmalaya
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Pementasan teater kolosal bertajuk Jantur memukau ratusan penonton di pelataran kampus Universitas Siliwangi (Unsil), Sabtu malam (14/3/2026).

Namun lebih dari sekadar tontonan artistik, pertunjukan berdurasi sekitar dua jam itu menjadi panggung kritik terhadap konflik agraria dan krisis lingkungan yang masih menghantui ruang hidup masyarakat.

Sutradara pertunjukan, Budi Riswandi atau akrab disapa Bode, menjelaskan naskah Jantur lahir dari riset panjang mengenai mitos dan sejarah lokal di kawasan Dadaha, Kota Tasikmalaya.

Baca Juga:630 Ribu Guru Madrasah Swasta Terhalang PPPK, PGM Desak MenPAN-RB Tak Tutup MataLatih Bisnis Sekaligus Berbagi, Bazar Tebus Murah Mahasiswa Kewirausahaan UMB 

Ia menelusuri legenda yang berkembang di masyarakat lalu membacanya kembali dalam konteks sosial masa kini.

“Ini berangkat dari riset saya tentang legenda Dadaha. Dulu ada cerita setiap ada acara besar di Dadaha selalu turun hujan. Konon pernah ada petani yang meminta sawahnya tidak diuruk karena masih menunggu masa panen, tetapi permintaan itu tidak digubris,” ujar Bode.

Menurutnya, cerita rakyat semacam itu tidak semestinya diperlakukan sekadar dongeng pengantar tidur. Di baliknya tersimpan relasi panjang antara manusia, alam, dan kekuasaan.

“Legenda bagi saya adalah data kebudayaan. Dalam konteks hari ini, resistensi alam yang sering terjadi bisa dibaca sebagai konsekuensi dari keserakahan manusia. Naskah ini mempertemukan relasi kekuasaan dengan kaum agraria, dengan isu utama tentang ekosistem,” jelasnya.

Pementasan Jantur juga menjadi bagian dari diseminasi penelitian berbasis seni yang tengah dilakukan Bode dalam studi doktoralnya di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Dalam penelitian tersebut, legenda lokal diperlakukan sebagai sumber data budaya yang kemudian diolah melalui pendekatan dramaturgi modern.

Proses kreatifnya pun tidak singkat. Riset awal berlangsung sekitar satu tahun, sedangkan produksi teater memakan waktu sekitar empat bulan.

Baca Juga:Promotor Konser Jawab Masukan MUI: Tagline “Melepas Penat” Dinilai Tak Salah, Walaupun Kini BerubahGunung Jati Group Banjir Doa, 500 Warga Kota Tasikmalaya Buka Puasa Bersama

Lebih dari 100 aktor terlibat dalam pertunjukan ini, berasal dari berbagai komunitas seni, kelompok teater mahasiswa, hingga sanggar seni lokal.

“Produksi teaternya sekitar empat bulan dan risetnya satu tahun. Ada lebih dari 100 aktor yang terlibat, belum termasuk kru di belakang panggung,” kata Bode.

Pemilihan aktor dilakukan melalui proses penyaringan selama kurang lebih satu bulan, menyesuaikan karakter, usia, serta kebutuhan dramaturgi naskah.

0 Komentar