Sebagian anak juga datang akibat konflik keluarga atau tekanan psikologis orang tua setelah melahirkan.
Bagi Irma, cerita kelam itu bukan alasan untuk menolak mereka.
“Kami berkepentingan menyelamatkan anak-anak saja,” katanya.
Dalam mengelola yayasan, Irma dibantu tujuh relawan. Namun yang setiap hari berada di panti hanya dirinya bersama sang suami.
Hari-hari mereka pun nyaris tak pernah sepi. Dari menenangkan bayi, menidurkan balita, memastikan anak-anak sekolah, hingga menjaga agar rumah sederhana itu tetap hangat.
Baca Juga:Promotor Konser Jawab Masukan MUI: Tagline “Melepas Penat” Dinilai Tak Salah, Walaupun Kini BerubahGunung Jati Group Banjir Doa, 500 Warga Kota Tasikmalaya Buka Puasa Bersama
Rumah yang bagi puluhan anak di sana memiliki satu panggilan yang sama: ibu.
Dan di Kota Tasikmalaya, Irma menjawab panggilan itu—setiap hari, hampir tanpa jeda. (ayu sabrina barokah)
