Kota Tasikmalaya Punya Irma Arliyanti, Ibu bagi Puluhan Anak Terlantar

kisah Irma Arliyanti mengasuh puluhan anak terlantar di Kota Tasikmalaya
Irma Arliyanti, pemilik panti asuhan Yayasan Mutiara Titipan Illahi (Yamu’ti) bersama anak-anak asuhannya. Ayu Sabrina Barokah / Radar Tasikmalaya
0 Komentar

Di sela kesibukan itu, Irma berusaha menjaga agar panti terasa seperti rumah. Tempat yang hangat, bukan sekadar ruang penampungan.

Di halaman sederhana yayasan, tawa anak-anak kerap terdengar. Ada yang bermain bersama, ada pula yang bercengkerama di dalam ruangan.

Bagi Irma, suasana seperti itu penting agar anak-anak tidak merasa sendirian.

Baca Juga:Promotor Konser Jawab Masukan MUI: Tagline “Melepas Penat” Dinilai Tak Salah, Walaupun Kini BerubahGunung Jati Group Banjir Doa, 500 Warga Kota Tasikmalaya Buka Puasa Bersama

Bangunan yang kini digunakan sebagai tempat tinggal anak-anak sebenarnya merupakan bekas pabrik meubel milik suaminya. Perlahan, bangunan itu diperbaiki agar lebih layak dihuni.

Perjalanan yayasan ini pun tidak dimulai dari tempat yang nyaman. Sebelum berada di Sukahurip, Irma sempat menjalankan kegiatan pengasuhan di kawasan Gunung Kalon.

Saat itu, tempat yang digunakan bahkan merupakan bekas tempat pakan burung.

Dari ruang sederhana itulah langkah kecil Yamu’ti dimulai.

Irma sendiri sebenarnya memiliki keluarga besar. Ia adalah ibu dari lima anak kandung yang kini telah beranjak dewasa.

Anak-anaknya memahami pilihan hidup sang ibu yang kini juga mengurus puluhan anak lain.

“Anak-anak saya sudah besar. Mereka tahu ibunya sekarang mengurus banyak anak di sini,” katanya.

Motivasi Irma berangkat dari keyakinan sederhana: hidup seharusnya memberi manfaat bagi orang lain.

Baca Juga:Sembako Murah di Mapolres Kota Tasikmalaya Jaga Stabilitas Harga Bahan PokokHET LPG di Priangan Timur Tak Naik 12 Tahun, Hiswana Migas Sindir Janji Kepala Daerah

Ia teringat pesan guru mengajinya tentang pentingnya berbuat baik kepada sesama.

“Kami ini bukan orang kaya. Tapi minimal ingin berbuat sesuatu. Walaupun hanya setitik air, setidaknya ada kontribusi,” tuturnya.

Ia tak menutup mata bahwa perjalanan tersebut penuh keterbatasan. Kurang tidur, kelelahan, hingga tekanan pikiran pernah ia rasakan.

Mengurus puluhan anak bukan pekerjaan ringan, terlebih dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan.

Namun keyakinan membuatnya terus berjalan.

“Sebagai manusia biasa saya juga pernah sedih, pernah kurang makan, kurang tidur. Tapi kami percaya, kalau bersungguh-sungguh pasti ada jalan,” ujarnya.

Anak-anak yang datang ke Yamu’ti membawa cerita yang berbeda-beda.

Ada bayi yang ditelantarkan karena lahir dari hubungan di luar nikah. Ada pula yang ditemukan dalam kondisi memprihatinkan.

Irma pernah menerima bayi yang dibawa dalam kardus. Di waktu lain, seorang tukang parkir datang mengantarkan bayi yang ditemukan terlantar.

0 Komentar