Sejak tahap awal, mulai dari penulisan naskah, penyusunan buku Apa dan Bagaimana Alih Wahana, hingga proses pementasan, Budi secara intens berdiskusi dengan para akademisi dan praktisi. Ia mendapat bimbingan langsung dari Prof. Dr. Sumiyadi, M.Hum. dan Prof. Dr. Dadang Sunendar, M.Hum., yang bertindak sebagai promotor dan kopromotor disertasinya di UPI Bandung. Selain itu, berbagai diskusi juga dilakukan dengan penulis naskah, kritikus teater, serta pengamat seni pertunjukan. Semua itu dilakukan untuk menegaskan satu hal: teater dapat menjadi modus penghasil pengetahuan, bukan sekadar hiburan.
Parkiran yang Berubah Menjadi Sawah
Pementasan “Jantur” digelar pada 20 Maret 2026 pukul 20.00 WIB di lapangan parkir Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik serta Fakultas Ilmu Kesehatan di Universitas Siliwangi (UNSIL) Tasikmalaya. Lokasi yang biasanya hanya menjadi tempat kendaraan diparkir, malam itu disulap menjadi lanskap persawahan. Penonton disuguhi ruang imaji yang kuat: sawah, tanah, dan kehidupan agraris yang perlahan diguncang oleh mesin-mesin pembangunan.
Puncak dramatik terjadi ketika eskavator dan dump truck, dan orang-orang proyek benar-benar muncul di tengah arena, menghancurkan ruang visual yang telah dibangun sebelumnya. Suara mesin berat dan pergerakan alat itu menjadi metafora keras tentang bagaimana pembangunan sering kali meruntuhkan ruang hidup masyarakat. Adegan tersebut bukan sekadar efek teatrikal. Ia menjadi teror simbolik yang memaksa penonton merasakan langsung konflik yang sedang dipentaskan.
Baca Juga:Kecelakaan Laut Jadi Perhatian Khusus, Persiapkan Keamanan Objek Wisata di Pengandaran Menjelang Lebur LebaranSaat Wali Kota Tasikmalaya Bergamis Lewat di Depan Teras!
Tak heran jika malam itu ratusan orang memadati arena. Apresiator datang dari berbagai kalangan: pejabat kampus, Wakil Wali Kota, anggota dewan, sivitas akademika UNSIL, hingga masyarakat umum. Dalam suasana yang tumpah ruah itu, batas antara panggung dan penonton menjadi kabur.
Etnoteater sebagai Teater Realitas
Promotor disertasi Bode, Prof. Dr. Sumiyadi, M.Hum., menilai pementasan ini sebagai contoh kuat dari etnoteater, sebuah bentuk teater yang berpijak pada realitas sosial.
Setelah menyaksikan pementasan Jantur karya Budi Riswandi—yang akrab disapa Bode itu—saya melihat bahwa karya ini tidak semata-mata hadir sebagai peristiwa estetika. Jantur lebih tepat dipahami sebagai teater realitas, sebuah bentuk yang dekat dengan konsep ethnodrama atau ethnoteater sebagaimana dikembangkan oleh Johnny Saldaña dan juga dibicarakan oleh Mia Perry. Dalam kerangka itu, teater bukan sekadar seni pertunjukan, melainkan medium representasi sosial yang lahir dari pengalaman nyata masyarakat.
