TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Malam itu angin di Perumahan Grand Mayasari terasa sejuk. Perumahan ini memang salah satu yang paling besar dan elite di Kota Tasikmalaya.
Rumahnya besar-besar. Jalannya lebar. Pepohonannya rapi. Tapi malam itu yang terasa bukan kemewahannya. Yang terasa justru suasana kampungnya.
Kami nongkrong di teras rumah. Rumah itu milik H Azies Rismaya Mahpud. Ia baru datang ke Tasikmalaya. Ada acara Persatuan Ummat Islam yang harus dihadirinya.
Baca Juga:Kolaborasi dengan Alumni, SMA Pancasila Berikan Bekal Lebaran untuk Anak YatimDPRD Pangandaran Sebut Program MBG Berpotensi Jadi Ladang Korupsi
Sudah lama kami tidak bersua. Tidak kongkow. Tidak ngobrol santai. Maka malam itu dimanfaatkan. Yang hadir hanya beberapa orang. Ada H Asep Sepadan. Ada juga H Yayat. Yayat ini biasa kami panggil: bestie.
Obrolan khas orang Tasik. Dari cerita lama.
Sampai cerita baru. Tidak ada topik resmi. Tidak ada agenda. Tiba-tiba seorang ibu keluar dari dalam rumah.
Ia membawa nampan. Dialah Hj Selly Syarifah, istri H Azies. Di atas nampan itu ada gelas-gelas teh. Teh tawar. Ini teh khas rumah H Azies. Kalau bertamu ke rumahnya, hampir pasti disuguhi yang satu ini. Mereknya. Dilmah.
Aromanya kuat. Rasanya bersih. Ringan. Entah kenapa, teh ini selalu membuat obrolan jadi lebih santai. Lebih cair. Kami menyeruput perlahan. Obrolan makin ngalor-ngidul.
Di tengah obrolan itu tiba-tiba ada seseorang lewat di depan rumah. Bergamis putih. Celana putih. Kopiah haji putih. Kacamata hitam.
Awalnya kami pikir jamaah masjid yang lewat. Tapi langkahnya berhenti. Ia menoleh ke arah teras. Baru kami sadar.
Itu Viman Alfarizi Ramadhan. Orang nomor satu di Kota Tasikmalaya.
Ia baru pulang dari tarawih di Masjid Grand Mayasari. Bersama istrinya, Elvira Kamaraw. Di kompleks ini memang begitu. Rumah Wali Kota dan rumah H Azies hanya terhalang beberapa rumah saja.
Baca Juga:Administrasi Prematur, Satu Pegawai Sampai Dua Kali Diberhentikan Sebagai ASN di Pemkot TasikmalayaMemimpin Itu Mendengar!
Jaraknya dekat. Sangat dekat. Viman terlihat pangling malam itu. Gamis putih membuatnya terlihat seperti santri yang baru pulang dari pesantren.
Padahal sehari-hari ia lebih sering terlihat dengan pakaian formal. Ia berjalan kaki. Tanpa pengawalan. Tanpa protokoler. Konon memang begitu kebiasaannya.
