Polisi Selidiki Penganiayaan Janda yang Dianiaya Usai Ziarah Makam Anaknya di Mangkubumi Kota Tasikmalaya

polisi selidiki penganiayaan janda usai ziarah makam anak di Kota Tasikmalaya
Tim Inafis Satreskrim Polres Tasikmalaya Kota saat melakukan olah TKP kasus penemuan wanita penuh luka di selokan, Rabu (11/3/2026). Istimewa for radartasik.id
0 Komentar

Menurut Herman, korban merupakan seorang janda yang bekerja di Bandung dan jarang pulang ke Tasikmalaya. Saat kejadian ia pulang untuk berziarah ke makam anaknya.

“Korban janda, bekerja di Bandung dan jarang ke Tasik. Anak-anaknya tinggal di sini. Saat kejadian korban baru selesai ziarah ke makam anaknya, lalu terjadi penganiayaan,” jelasnya.

Dari keterangan korban, ia tidak mengenal terduga pelaku. Hal ini membuat proses penyelidikan menjadi lebih rumit.

Baca Juga:Tasik Speed Run: ketika Jalan Dokar Kota Tasikmalaya Disulap Jadi Arena Olahraga Dadakan di Malam RamadanRaffi Ahmad dan Amir Mahpud Bedah Masa Depan Anak Muda!

“Korban mengaku tidak mengenal terduga pelaku. Selain itu tidak ada saksi dan tidak ada CCTV di lokasi, sehingga kami harus menyisir lagi untuk pendalaman kasus ini,” katanya.

Sebelumnya, warga Kampung Gunung Bubut digegerkan dengan penemuan seorang perempuan penuh luka di selokan area persawahan pada Rabu (11/3/2026) sekitar pukul 13.00 WIB.

Petugas kepolisian yang menerima laporan langsung mendatangi lokasi dan mengevakuasi korban ke RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya.

Saat ditemukan, korban dalam kondisi pingsan dengan luka lebam di wajah serta luka pada tangan yang diduga akibat senjata tajam.

Korban diketahui bernama Heni Nurhayani (43), warga setempat.

Ia diduga sempat berusaha berjalan pulang setelah dianiaya, namun akhirnya terjatuh ke selokan sekitar 10 meter dari lokasi kejadian karena kehilangan banyak darah.

Kini korban sudah sadar setelah mendapat penanganan medis, meski kondisinya masih dalam masa pemulihan.

Di tengah Kota Tasikmalaya yang kerap membanggakan citra religiusnya, peristiwa kekerasan yang menimpa seorang ibu usai berziarah ke makam anaknya menjadi ironi tersendiri—seolah mengingatkan bahwa di balik tenangnya lorong-lorong kampung, ancaman kekerasan masih bisa muncul kapan saja. (rezza rizaldi)

0 Komentar