RADARTASIK.ID— Di lintasan balap Eropa yang dingin dan penuh persaingan, sebuah nama dari Indonesia tiba-tiba mencuri perhatian.
Sosok itu adalah Veda Ega Pratama, pembalap muda berusia 17 tahun asal Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Dalam beberapa bulan terakhir, nama pembalap Indonesia Veda Ega Pratama hebohkan Eropa,
Baca Juga:Tiga Pemain Persib Dipanggil Timnas Indonesia untuk FIFA Series Akhir Maret Ini, Berikut Daftar LengkapnyaSayap-Sayap Persib Bandung Jadi Kekuatan Skuad Boja Hodak Taklukkan Persik Kediri, Ini Kata Beckham Putra
Bahkan Veda Ega Pratama semakin sering disebut di paddock setelah data telemetri balapnya menunjukkan angka-angka yang membuat sejumlah analis teknis mengangkat alis.
Veda bukan sekadar pembalap remaja yang mencoba peruntungan di Eropa.
Ia muncul sebagai talenta yang memikat perhatian karena satu kemampuan yang jarang dimiliki pembalap seusianya: teknik menikung yang luar biasa presisi.
Beberapa jurnalis balap bahkan mulai membandingkan gaya tikungannya dengan legenda Marc Márquez, juara dunia MotoGP yang terkenal dengan sudut kemiringan ekstrem dan kontrol motor yang nyaris tak masuk akal.
Perbincangan itu bermula dari analisis data telemetri yang beredar di kalangan jurnalis dan teknisi balap di Eropa.
Grafik kecepatan menunjukkan bahwa Veda memiliki mid-corner speed—kecepatan saat motor berada di titik tengah tikungan—yang sangat tinggi dibandingkan pembalap lain di kelasnya.
Angka tersebut bahkan dianggap tidak lazim untuk motor yang digunakan pada kategori Moto3, kelas balap yang menggunakan mesin 250 cc satu silinder dengan tenaga jauh lebih kecil dibanding motor di kelas utama.
Beberapa analis teknis yang mempelajari grafik itu menilai pola akselerasi Veda menyerupai data milik Márquez pada masa puncak kariernya.
Namun kesamaan tersebut bukan berarti keduanya memiliki pendekatan yang identik.
Baca Juga:Rekor Persib di Kandang Sungguh Fantastis, Belum Ada Tim Lolos dari Kekalahan di GBLA, Terbaru Persik Kediri Komentar Marcos Reina Usai Persik Kediri Dihancurkan Persib Bandung di GBLA, Soroti 2 Penalti Pangeran Biru
Jika Márquez dikenal dengan gaya agresif—sering memaksa motor masuk tikungan dengan sudut kemiringan ekstrem—Veda justru tampil lebih halus dan efisien.
Analisis video gerak lambat memperlihatkan sejumlah detail teknis yang menjadi keunggulan pembalap muda Indonesia tersebut.
Ia menjaga distribusi berat tubuh lebih rendah, sehingga pusat gravitasi motor tetap stabil saat menikung.
Motor terlihat mengalir mengikuti racing line yang rapi, sementara kontrol throttle-nya sangat halus.
