Memimpin Itu Mendengar!

Azies rismaya mahpud, kota tasikmalaya, amir mahpud
H Azies Rismaya Mahpud dan H Amir Mahpud saat menghadiri sebuah acara pernikahan bersama para tokoh Tasikmalaya beberapa bulan lalu
0 Komentar

Karena ketika aturan diabaikan, yang muncul bukan lagi kepemimpinan. Yang muncul adalah kehendak pribadi. Dan kehendak pribadi sering kali tidak tahan lama.

Pemimpin juga, sambung Azies, tidak hidup sendirian dalam sebuah organisasi. Ada tim. Ada bawahan. Ada masyarakat. Ada pihak-pihak yang mungkin memiliki pandangan berbeda.

Perbedaan itu bukan ancaman. Justru bahan bakar keputusan yang matang. Sebab sering kali orang di sekitar pemimpin melihat sesuatu yang tidak terlihat dari kursi paling atas.

Baca Juga:PKL Diusir di Masjid Agung , Diundang di HZ Mustofa: Dua Kebijakan di Satu Kota!Kongkow Tengah Malam, Membahas Lari Dini Hari Anak Muda Tasikmalaya!

Itulah sebabnya pemimpin yang bijak tidak alergi terhadap saran. Ia mengajak orang bicara. Ia membuka ruang diskusi. Ia menimbang usulan.

Bukan karena ia ragu. Tetapi karena ia ingin keputusannya adil. Pada akhirnya, sejarah selalu mencatat satu hal sederhana: pemimpin boleh hebat, boleh pintar, boleh berani. Tetapi tanpa keadilan dan kemauan mendengar, kepemimpinan hanya akan menjadi suara yang keras. Namun tidak selalu benar. (red)

0 Komentar