Memimpin Itu Mendengar!

Azies rismaya mahpud, kota tasikmalaya, amir mahpud
H Azies Rismaya Mahpud dan H Amir Mahpud saat menghadiri sebuah acara pernikahan bersama para tokoh Tasikmalaya beberapa bulan lalu
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Ada satu hal yang sering dilupakan dalam kepemimpinan. Padahal itu yang paling mendasar. Rasa keadilan.

Banyak orang mengira memimpin itu soal posisi. Soal kursi. Soal siapa yang duduk paling depan di meja rapat. Padahal tidak sesederhana itu. Memimpin juga soal cara mengambil keputusan.

Hal itu pernah disampaikan H Azies Rismaya Mahpud, dalam sebuah diskusi beberapa waktu lalu. Azies mengingatkan satu prinsip sederhana. Memimpin tidak cukup hanya dengan duduk di kursi paling depan.

Baca Juga:PKL Diusir di Masjid Agung , Diundang di HZ Mustofa: Dua Kebijakan di Satu Kota!Kongkow Tengah Malam, Membahas Lari Dini Hari Anak Muda Tasikmalaya!

Memimpin itu soal keadilan. Dan keadilan jarang lahir dari keputusan yang diambil sendirian. “Keadilan lahir dari mendengar banyak suara,” kira-kira begitu pesan yang ia sampaikan H Azies.

Memang benar. Seorang pemimpin punya kewenangan. Ia boleh mengambil keputusan. Bahkan harus. Tanpa keputusan, organisasi tidak akan berjalan. Pemerintahan juga akan stagnan.

Namun keputusan yang baik hampir tidak pernah lahir dari ruang yang terlalu sunyi.Ia biasanya lahir dari diskusi panjang.Dari perdebatan kecil. Dari masukan yang kadang tidak nyaman didengar. Dan dari saran yang kadang terasa mengganggu ego.

Di situlah kualitas seorang pemimpin diuji.Apakah ia cukup besar untuk mendengar orang lain. Apakah ia cukup bijak untuk mengajak diskusi. Dan apakah ia cukup dewasa untuk mempertimbangkan usulan orang lain.

Sebab administrasi pemerintahan sebenarnya sudah punya jalurnya. Ada aturan. Ada prosedur. Ada tata kelola. Ketika semua itu dijalankan dengan benar, keputusan biasanya akan terasa lebih adil.

Keadilan memang tidak selalu membuat semua orang puas. Tapi setidaknya orang merasa didengar. Dan sering kali, bagi banyak orang, didengar itu sudah setengah dari rasa keadilan.

Karena pada akhirnya, memimpin bukan hanya soal siapa yang memutuskan. Tetapi juga bagaimana keputusan itu dilahirkan.

Baca Juga:Jika THR ASN Tak Datang di Kota Resik!DAG..DIG..DUG..THR ASN DI KOTA RESIK!

Sebab, kata Azies, Pemimpin yang kuat bukan yang selalu merasa paling benar.Pemimpin yang kuat adalah yang mau mendengar sebelum memutuskan.

Administrasi negara pun sudah memberi rambu-rambu. Ada aturan main. Ada mekanisme. Ada prosedur. Itu dibuat bukan untuk mempersulit pemimpin. Justru untuk menjaga keadilan agar keputusan tidak hanya berdasar selera.

0 Komentar