Marak Calo Uang Baru di Medsos, Polisi Ingatkan Warga Kota Tasikmalaya Tetap Waspada 

calo penukaran uang baru di Kota Tasikmalaya
Kasatreskrim Polres Tasikmalaya Kota AKP Herman Saputra. Rezza Rizaldi / Radar Tasikmalaya
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Fenomena jasa penukaran uang baru menjelang Lebaran yang marak di media sosial mulai mendapat perhatian aparat kepolisian.

Masyarakat di Kota Tasikmalaya diingatkan untuk lebih waspada, terutama terhadap potensi peredaran uang palsu.

Kasatreskrim Polres Tasikmalaya Kota AKP Herman Saputra mengatakan, praktik jasa penukaran uang baru pada dasarnya tidak serta-merta melanggar hukum selama tidak menyalahi aturan yang berlaku. Namun masyarakat tetap diminta berhati-hati.

Baca Juga:Pemkot Tasikmalaya Waspadai Inflasi Jelang Lebaran Idul FitriIroni Guru RA Kota Tasikmalaya: Mengajar Generasi Emas, Gaji Masih Tipis Rp 200 Ribu Per Bulan

“Boleh-boleh saja selama tidak melawan aturan. Tapi masyarakat harus memperhatikan beberapa hal. Takutnya itu uang palsu,” ujar Herman saat dimintai keterangan, Minggu (8/3/2026).

Menurut dia, menjelang Hari Raya Idulfitri biasanya terjadi peningkatan peredaran uang tunai di masyarakat. Situasi tersebut sering dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu yang tidak bertanggung jawab.

Karena itu, masyarakat yang hendak menukarkan uang pecahan baru diminta lebih selektif dan tidak tergiur tawaran jasa penukaran yang beredar di jalan maupun di media sosial.

“Dengan banyaknya penukaran uang menjelang Lebaran, pemasukan dan peredaran uang juga meningkat. Jadi masyarakat harus lebih hati-hati ketika menukarkan uang baru atau pecahan kecil,” katanya.

Ia mengingatkan masyarakat untuk menggunakan metode 3D guna memastikan keaslian uang yang diterima.

“Gunakan jurus 3D: dilihat, diraba, dan diterawang. Itu cara sederhana untuk memastikan keaslian uang,” ujarnya.

Sebelumnya, polemik penukaran uang baru menjelang Lebaran di Kota Tasikmalaya sempat ramai diperbincangkan. Sejumlah warga mengeluhkan sulitnya mendapatkan kuota penukaran melalui aplikasi yang disediakan otoritas moneter.

Baca Juga:UMB Dorong Mahasiswa Jadi Generasi AntikorupsiNIF Ciamis Jadi Laboratorium Lapangan Mahasiswa Unsoed

Di sisi lain, media sosial justru dipenuhi tawaran jasa penukaran uang baru dengan tambahan biaya administrasi yang tidak kecil.

Salah satu unggahan di grup Facebook Wisata Belanja Tasik Online bahkan menawarkan jasa penukaran uang baru dengan sistem pemesanan melalui WhatsApp dan transaksi langsung atau COD di wilayah Tasikmalaya.

Di lapangan, layanan penukaran uang baru di jalur informal seperti warung BRILink juga semakin jarang ditemukan.

Rosa Rosdiana (35), pengelola warung BRILink di kawasan Argasari, Kecamatan Cihideung, mengatakan sejak tahun lalu pihaknya tidak lagi melayani penukaran uang baru.

0 Komentar