Kata Media AS Usai Saksikan Derby Milan: Serie A Berada di Dunianya Sendiri

Serie A
Ilustrasi logo Serie A Foto: Tangkapan layar Instagram
0 Komentar

Ia bahkan menggambarkan pertandingan itu seperti menyaksikan olahraga yang berbeda.

“Pertandingan ini terasa seperti olahraga yang berbeda dibandingkan sepak bola Premier League,” tulisnya.

Meski tempo permainan dinilai lebih lambat, Cox tetap mengakui bahwa pertandingan tersebut tetap menarik untuk ditonton.

“Pertandingannya berkembang perlahan, tetapi tetap sangat menyenangkan,” tulisnya.

Menurutnya, salah satu hal yang membuat Serie A unik adalah pendekatan taktik yang masih sangat khas Italia.

Baca Juga:Atalanta vs Bayern Munchen: Palladino Sebut Laga Ini Seperti Kisah “David melawan Goliath”Alasan Mateo Pellegrino Bertahan di Parma Meski Jadi Incaran AC Milan dan Juventus

“Sepak bola Italia sekarang hidup di dunianya sendiri,” tulis Cox.

Ia mencontohkan bagaimana dua tim papan atas seperti Milan dan Inter masih menggunakan sistem 3-5-2, sesuatu yang jarang terlihat dalam duel antara tim-tim elite di liga lain.

Formasi tersebut membuat lini tengah sangat padat, sementara para pemain sayap harus bekerja keras naik turun sepanjang pertandingan untuk mengawal lawan di sisi lapangan.

Dalam analisisnya, Cox juga menyoroti proses gol kemenangan Milan yang dicetak Estupinan. Menurutnya, gol tersebut lahir dari rangkaian serangan yang sangat rapi.

Ia menilai gol tersebut mencerminkan karakter pertandingan yang berlangsung sangat taktis dan penuh perhitungan.

“Gol itu berasal dari manuver serangan yang sangat bagus dari Milan. Itu adalah jenis gol yang Anda harapkan dalam pertandingan yang keras seperti ini,” tulisnya.

Cox juga menyoroti salah satu pemain Milan, Luka Modric, yang masih tampil impresif meski telah berusia 40 tahun.

Baca Juga:Tak Ada Tawaran Resmi dari AC Milan, Juventus Tawari Vlahovic Gaji Lebih Rendah dari YildizHasil Derby della Madonnina: Inter Milan Tak Berdaya Tanpa Lautaro, Thuram dan Calhanoglu

Menurutnya, keberhasilan Modric tetap bermain di level tinggi juga berkaitan dengan ritme permainan Serie A yang tidak secepat liga lain.

“Contoh paling jelas adalah melihat Modric masih tampil begitu kuat di usia 40 tahun,” tulis Cox.

Ia menilai peran Modric kemungkinan akan jauh lebih terbatas jika bermain di liga lain yang memiliki intensitas fisik lebih tinggi.

Sebagai perbandingan, Cox mencatat bahwa musim ini Modric sudah bermain 21 pertandingan penuh selama 90 menit bersama Milan.

Padahal pada musim sebelumnya di Real Madrid, ia hanya mencatat 13 laga penuh.

Hal itu disebutnya sebagai salah satu bukti bahwa ritme Serie A memungkinkan pemain berpengalaman tetap tampil maksimal.

0 Komentar