Dari Papua, Mencari Tempat untuk Didengar
Cerita berbeda datang dari N. Remaja ini berasal dari Papua. Ibunya telah meninggal, sementara ayahnya sibuk bekerja dan saudara-saudaranya telah hidup terpisah.
Ia tumbuh dengan rasa sepi yang lama tak ia pahami.
“Saya sering merasa nggak diperhatikan. Kadang mikir kenapa hidup saya berbeda,” ujarnya pelan.
Suatu hari ia bertemu seseorang yang memperkenalkan program panti asuhan sebagai alternatif untuk melanjutkan sekolah.
Baca Juga:RS Jasa Kartini Tasikmalaya Kembangkan Layanan Digitalisasi Sekda Umumkan Agenda Libur Panjang Lebaran ASN Kota Tasikmalaya, Tapi Ingatkan hal ini
N tidak langsung percaya. Ia mencari informasi sendiri melalui media sosial.
Dari sana ia menemukan berbagai kegiatan sosial dan pendidikan yang dilakukan lembaga kemanusiaan Humanity First.
Setelah komunikasi dengan keluarga dan pengurus panti, ia akhirnya berangkat ke Kota Tasikmalaya pada Juni 2025.
Di panti, ia menemukan lingkungan yang menurutnya lebih terbuka. Tidak ada penghakiman atau perbandingan.
Ia mulai berani berdiskusi, mengikuti kegiatan keagamaan, dan perlahan memahami pengalaman hidupnya.
Dari sana muncul cita-cita baru: menjadi mubaligh yang tidak hanya berdakwah, tetapi juga mendampingi orang-orang yang pernah merasa sendirian seperti dirinya.
Dari Komunitas ke Gerakan Kemanusiaan
Panti Asuhan Hasanah Kautsar berdiri sejak 7 Juni 2003. Awalnya dikelola oleh Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI).
Baca Juga:Diky Candra Ingatkan Musrenbang Kota Tasikmalaya Jangan Sekadar FormalitasDi Kota Tasikmalaya THR Bisa Jadi Tunjangan Hari Syawal (THS)!
Sejak 2023 pengelolaannya beralih ke Yayasan Utama Kemanusiaan melalui organisasi kemanusiaan internasional Humanity First, lewat program Orphan Care.
Humanity First sendiri berdiri pada 1994 di London dan kini aktif di 58 negara.
Di Indonesia, panti di Kota Tasikmalaya menjadi satu-satunya unit yang menjalankan program pengasuhan anak secara penuh dalam bentuk panti.
Vice Chairman Humanity First Indonesia Ahmad Madihuddin mengatakan kegiatan yang dijalankan bersifat murni kemanusiaan.
“Pendanaan berasal dari berbagai donatur. Prinsipnya kerja kemanusiaan tanpa pamrih,” ujarnya.
Sejak dikelola Humanity First, empat anak telah lulus dari panti. Ada yang melanjutkan kuliah di perguruan tinggi negeri, ada yang kembali ke keluarga dan bekerja, bahkan ada yang memilih kembali sebagai kakak asuh bagi adik-adik yang kini menempati posisi mereka dulu.
Di tengah berbagai pertanyaan tentang identitas keagamaan, pengurus menegaskan bahwa anak-anak bebas menjalankan keyakinannya masing-masing.
