Alih-alih memaksa beradaptasi cepat, para pengasuh memilih pendekatan perlahan.
Rutinitas dibuat konsisten, suara dijaga tetap tenang, dan komunikasi dilakukan lewat tulisan di jurnal.
“Berbulan-bulan baru dia mau bercerita. Awalnya bukan trauma besar, tapi hal kecil seperti takut gelap atau takut dimarahi. Dari situ kepercayaan mulai tumbuh,” ujarnya.
Pernah pula panti menangani seorang anak berkebutuhan khusus (ABK).
Dengan energi remaja yang tinggi, anak itu beberapa kali dilaporkan mengamuk di warung warga dan mengambil barang dagangan.
Baca Juga:RS Jasa Kartini Tasikmalaya Kembangkan Layanan Digitalisasi Sekda Umumkan Agenda Libur Panjang Lebaran ASN Kota Tasikmalaya, Tapi Ingatkan hal iniÂ
Peristiwa itu sempat membuat panti menjadi sorotan. Namun pengurus memilih mencari solusi ketimbang sekadar memberi hukuman.
Anak tersebut akhirnya menjalani pemeriksaan psikologis dan terapi khusus di lembaga yang lebih kompeten.
Pendampingan psikologis memang menjadi bagian penting dari sistem pengasuhan di panti ini. Mereka bekerja sama dengan rumah sakit, relawan pendidikan, dan tenaga kesehatan.
Tujuan pengasuhan dirumuskan sederhana: asah, asih, dan asuh—memberi pendidikan, perhatian, dan rasa aman.
Menyusun Ulang Mimpi yang Sempat Terputus
Bagi S, panti ini bukan sekadar tempat tinggal. Ia datang dari Bekasi Timur saat berusia 16 tahun.
Di rumah, ia dan saudara-saudaranya tumbuh dalam lingkungan keluarga yang keras. Situasi itu membuat sekolah dan masa depan terasa jauh dari jangkauan.
Melalui perantara keluarga dan komunitas, ia akhirnya mengetahui keberadaan panti di Kota Tasikmalaya.
Baca Juga:Diky Candra Ingatkan Musrenbang Kota Tasikmalaya Jangan Sekadar FormalitasDi Kota Tasikmalaya THR Bisa Jadi Tunjangan Hari Syawal (THS)!
Keputusan menitipkan anak ke panti bukan hal mudah bagi keluarganya. Namun itu dipilih demi keberlanjutan pendidikan dan kesehatan psikologis.
Di panti, hidup S mulai teratur. Ia bangun pagi, sekolah, lalu belajar malam bersama anak-anak lain.
Meski mengambil jurusan RPL, minatnya justru tumbuh di dunia tulis-menulis. Ia rajin membaca dan menulis jurnal. Beberapa karyanya bahkan pernah meraih penghargaan di sekolah.
Ia juga gemar menonton berita dan memperhatikan cara penyiar menyampaikan informasi.
“Dulu aku nggak pernah mikir punya cita-cita. Di sini aku belajar kalau cerita hidupku juga punya nilai,” katanya.
Kini ia bercita-cita menjadi jurnalis—menulis kisah anak-anak yang sering tak terdengar suaranya.
