“Belakangan ini saya diperlakukan seperti boneka,” ungkapnya.
Meski demikian, Ranieri tetap menyampaikan permintaan maaf kepada pihak klub dan terutama kepada Sabadini, pemain yang seharusnya ia gantikan di lapangan.
“Saya meminta maaf kepada semua orang, mulai dari klub hingga pelatih, tetapi terutama kepada Sabadini,” lanjutnya.
Pernyataan Ranieri tersebut memicu reaksi keras dari manajemen Catanzaro. Presiden klub saat itu, Merlo, tidak menyembunyikan kekecewaannya terhadap sikap sang pemain.
Baca Juga:Alasan Mateo Pellegrino Bertahan di Parma Meski Jadi Incaran AC Milan dan JuventusTak Ada Tawaran Resmi dari AC Milan, Juventus Tawari Vlahovic Gaji Lebih Rendah dari Yildiz
Ia bahkan menegaskan bahwa tindakan Ranieri bisa berujung pada konsekuensi serius.
“Musim ini Ranieri sudah cukup mengecewakan. Pelatih bahkan beberapa kali membelanya,” ujar Merlo.
Namun menurutnya, sikap menolak instruksi pelatih tidak bisa ditoleransi.
“Kami tidak bisa menerima perilaku seperti ini. Pelatih memiliki wewenang penuh dalam mengelola tim,” tegasnya.
Pelatih Catanzaro, Bruno Pace, juga mengakui bahwa insiden tersebut merupakan masalah serius bagi timnya.
“Itu adalah insiden yang serius,” kata Pace.
Namun ia memilih menyerahkan sepenuhnya keputusan mengenai masa depan Ranieri kepada manajemen klub.
“Saya akan mengikuti keputusan klub. Jika mereka memutuskan untuk mempertahankannya, maka kami akan memiliki satu pemain tambahan,” ujarnya.
Namun Pace juga menegaskan bahwa jika Ranieri tetap berada di tim, sang pemain harus mematuhi keputusan pelatih.
Baca Juga:Hasil Derby della Madonnina: Inter Milan Tak Berdaya Tanpa Lautaro, Thuram dan CalhanogluMassimo Mauro: Como Lebih Punya Peluang Lolos ke Liga Champions dibandingkan AS Roma dan Juventus
“Jika ia tetap di sini, ia harus mematuhi keputusan saya,” tegasnya.
Sebaliknya, jika klub memutuskan untuk melepasnya, Pace juga tidak akan mempersoalkan hal tersebut.
“Jika klub memilih untuk melepaskannya, saya tidak akan terlalu mempermasalahkannya,” tambahnya.
Insiden tersebut terjadi pada musim terakhir Ranieri bersama Catanzaro.
Sepanjang kariernya di klub tersebut, ia juga mencatatkan 128 penampilan di Serie A, sebuah angka yang menunjukkan kontribusinya di level tertinggi sepak bola Italia.
Meski kariernya sebagai pemain tidak terlalu gemerlap, pengalaman seperti inilah yang kemudian membentuk karakter Ranieri.
Beberapa dekade kemudian, ia justru dikenal sebagai salah satu pelatih paling dihormati di dunia sepak bola—terutama setelah kisah dongengnya membawa Leicester City menjuarai Liga Inggris pada 2016.
