Sebab di balik keterbatasan penglihatan, tekad mereka justru sering kali lebih tajam daripada yang bisa melihat.
Menjelang malam, suara tadarus masih terdengar lirih dari Gang Cintarasa. Jari-jari para jamaah terus meraba huruf timbul dengan kesabaran yang nyaris tak terdengar.
“Mata boleh saja tidak melihat, tapi hati harus tetap bercahaya dengan Al-Qur’an,” ujar Ustad Mamat.
Baca Juga:ASN Tasikmalaya Menunggu Keputusan Wali Kotanya!SIMLIM
Bagi Pingki, kalimat itu bukan sekadar nasihat. Dalam hidupnya yang sempat terasa gelap, Al-Qur’an kini menjadi cahaya yang berbeda. (ayu sabrina barokah)
