Tadarus Braille di Kota Tasikmalaya: Semangat Jamaah Tunanetra Melawan Keterbatasan Mushaf

jamaah tunanetra tadarus Al-Qur’an Braille di Kota Tasikmalaya
Para disabilitas netra membaca Al-Quran Braille di Majelis Taklim Tunanetra Al-Hikmah Kota Tasikmalaya, Sabtu (7/3/2026). Ayu Sabrina Barokah / Radar Tasikmalaya
0 Komentar

Pingki kini tinggal bersama ibunya dan kakak perempuannya. Ayahnya meninggal dunia akibat kecelakaan kerja di perusahaan tambang di Papua.

Namun dukungan sang ibu membuatnya tetap bangkit. Setiap pekan ia diantar ke Majelis Taklim Al-Hikmah untuk belajar membaca Al-Qur’an Braille.

Saat pertama datang, Pingki sama sekali belum mengenal huruf Braille. Ia harus belajar dari tahap paling dasar, mulai dari mengenali pola titik hingga membaca kata sederhana.

Baca Juga:ASN Tasikmalaya Menunggu Keputusan Wali Kotanya!SIMLIM

“Awalnya jari saya sering sakit karena belum terbiasa meraba huruf Braille,” katanya.

Latihan rutin akhirnya membuahkan hasil. Kini Pingki sudah mampu membaca Al-Qur’an dengan cukup lancar. Bahkan ia telah menghafal sekitar 15 juz.

“Alhamdulillah sekarang hati saya lebih tenang. Mengaji membuat saya kuat,” ujarnya.

Selain mengikuti kegiatan majelis taklim, Pingki juga menempuh pendidikan di SLB Bahagia Tasikmalaya.

Meski semangat belajar para jamaah tinggi, Majelis Taklim Tunanetra Al-Hikmah masih menghadapi keterbatasan fasilitas. Salah satu kendala terbesar adalah minimnya mushaf Braille.

Beberapa mushaf bahkan mulai rusak karena titik timbulnya aus akibat sering digunakan. Padahal harga satu set Al-Qur’an Braille tidak murah, bisa mencapai jutaan rupiah karena terdiri dari banyak jilid tebal.

“Kadang satu mushaf dipakai beberapa orang. Mereka harus bergantian membaca,” kata Ustad Mamat.

Baca Juga:Jalur Selatan Tasikmalaya Jadi Fokus Pengamanan Mudik LebaranKisah Riswan, Kuli Pasir yang Menggetarkan Hati Kapolres Andi: Diajak Jalan-jalan hingga Bukber

Kondisi tersebut membuat proses belajar tidak selalu berjalan mudah. Namun keterbatasan fasilitas tidak pernah menyurutkan semangat para jamaah.

Bagi penyandang tunanetra di Kota Tasikmalaya, majelis taklim ini bukan sekadar tempat belajar agama. Ruang sederhana itu juga menjadi ruang berbagi, saling menguatkan, dan memulihkan rasa percaya diri.

Menurut Ustad Mamat, lebih dari seratus jamaah pernah mengikuti kegiatan di tempat ini.

“Di sini mereka merasa punya keluarga baru,” ujarnya.

Memasuki bulan Ramadan, kegiatan majelis biasanya semakin ramai. Para jamaah rutin menggelar tadarus Braille, kajian agama, hingga diskusi keislaman.

Di ruang kecil itu pula tumbuh mimpi yang tidak sederhana: lahirnya penghafal Al-Qur’an dari kalangan tunanetra di Kota Tasikmalaya.

0 Komentar