TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Di tengah hiruk pikuk Kota Tasikmalaya, sebuah ruang tamu sederhana di Gang Cintarasa, kawasan Kahuripan, Kecamatan Tawang, justru menjadi tempat lahirnya ketekunan yang nyaris sunyi.
Di ruangan kecil beralaskan karpet itu, puluhan penyandang tunanetra rutin membaca Al-Qur’an melalui mushaf Braille.
Tidak ada bangunan megah ataupun fasilitas serba canggih. Namun dari rumah sederhana itu, Majelis Taklim Tunanetra Al-Hikmah Tasikmalaya terus menyalakan semangat belajar Al-Qur’an bagi jamaah yang tidak bisa melihat.
Baca Juga:ASN Tasikmalaya Menunggu Keputusan Wali Kotanya!SIMLIM
Sabtu malam (7/3/2026), para jamaah duduk melingkar sambil meraba halaman mushaf berisi titik-titik timbul.
Jari mereka bergerak perlahan membaca ayat demi ayat melalui sentuhan. Mushaf tersebut adalah Al-Qur’an Braille, kitab khusus bagi penyandang tunanetra.
Kegiatan itu dibimbing Ustad Mamat Rahmat, yang juga penyandang tunanetra. Ia memahami betul betapa panjang proses belajar membaca Al-Qur’an dengan metode Braille.
“Kalau orang yang bisa melihat mungkin beberapa bulan sudah lancar membaca Al-Qur’an. Tapi bagi tunanetra, satu huruf saja kadang perlu latihan berkali-kali,” ujarnya.
Ustad Mamat kehilangan penglihatannya sejak usia empat tahun akibat sakit panas tinggi. Pengalaman itu membuatnya mengerti betul perjuangan para jamaah yang belajar dari nol.
Apalagi sebagian peserta majelis taklim baru mengenal huruf Braille setelah kehilangan penglihatan di usia dewasa.
“Banyak yang harus memulai dari nol. Mereka belajar huruf Braille sekaligus belajar membaca Al-Qur’an,” katanya.
Baca Juga:Jalur Selatan Tasikmalaya Jadi Fokus Pengamanan Mudik LebaranKisah Riswan, Kuli Pasir yang Menggetarkan Hati Kapolres Andi: Diajak Jalan-jalan hingga Bukber
Di antara jamaah yang hadir malam itu terdapat Sherin Arzia (16), remaja yang akrab disapa Pingki. Ia duduk tenang sambil meraba mushaf Braille yang diletakkan di pangkuannya.
Pingki kehilangan penglihatannya beberapa tahun lalu setelah mengalami keracunan oksigen saat dirawat di rumah sakit akibat sakit panas tinggi.
“Setelah sembuh, penglihatan saya mulai kabur sampai akhirnya tidak bisa melihat sama sekali,” katanya pelan.
Kehilangan penglihatan di usia remaja sempat membuatnya terpukul. Dunia yang sebelumnya terang tiba-tiba berubah gelap.
“Awalnya saya sedih sekali. Rasanya seperti dunia tiba-tiba gelap,” ujarnya.
