TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Rencana konser musik bertajuk Melepas Penat Tasikmalaya yang akan digelar usai Lebaran di Eks Terminal Cilembang menuai kritik keras dari Ketua MUI Kota Tasikmalaya, KH Muhammad Aminudin Bustomi.
Menurutnya, momentum setelah Ramadan seharusnya diisi dengan refleksi spiritual, bukan justru menghadirkan hiburan yang dinilai tidak tepat dengan suasana religius masyarakat Kota Tasikmalaya.
“Ini baru terjadi di Kota Tasik ya. Tajuknya saja sudah provokatif. Penat dari apa? Dari perang Iran sama Amerika atau dari apa?” ujar KH Aminudin dengan nada satir kepada Radar, Senin (9/3/2026).
Baca Juga:Ramadan di Kota Tasikmalaya Relatif Kondusif, Satlantas Turunkan 100 Personel Tiap Hari Tekan Balapan LiarMusisi Soroti Minimnya Venue Konser di Kota Tasikmalaya, Panggung Hiburan Masih “Nebeng” Tempat
Ia menilai istilah “melepas penat” setelah Ramadan justru menimbulkan pertanyaan. Menurutnya, bulan suci seharusnya ditutup dengan penguatan nilai spiritual.
“Ramadan itu diakhiri dengan takbir, tahmid, tahlil. Bukan dengan hal-hal seperti itu. Jadi istilahnya saja sudah provokatif,” katanya.
KH Aminudin juga mengingatkan situasi global yang sedang tidak menentu. Ia menyindir bahwa dunia sedang menghadapi berbagai ketegangan geopolitik, sehingga masyarakat semestinya lebih fokus pada penguatan moral dan spiritual.
“Kita sekarang ini dunia sedang persiapan perang dunia ketiga, heeh. Harusnya berpikir bagaimana mempersiapkan bangsa dan anak bangsa ini. Jangan malah terlihat sibuk dengan hiburan,” tegasnya.
Ia juga menyoroti waktu pelaksanaan konser yang hanya berselang sekitar satu minggu setelah Lebaran, saat masyarakat masih dalam suasana silaturahmi.
“Setelah Lebaran orang masih silaturahim. Masih saling berkunjung. Ini malah ada konser. Pemerintah harus tegas. Ngapain juga ada izin seperti itu,” terangnya.
Selain itu, MUI juga mempertanyakan manfaat ekonomi bagi masyarakat Kota Tasikmalaya jika acara tersebut tetap digelar.
Baca Juga:ASN Tasikmalaya Menunggu Keputusan Wali Kotanya!SIMLIM
Menurut KH Aminudin, berdasarkan pengamatannya, keuntungan acara hiburan sering kali hanya dinikmati penyelenggara, sementara masyarakat lokal justru hanya kebagian kerepotan.
“Yang kita tracking itu biasanya keuntungan duniawi saja. Itu pun belum tentu semua untung. Tiket, sponsor, apalagi kalau penyelenggaranya dari luar (bukan promotor dari Tasik, Red),” tambahnya.
Ia pun meminta pemerintah daerah, dinas terkait, hingga aparat penegak hukum untuk bersikap tegas dan tidak membiarkan polemik berkembang.
