TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Pemerintah Kota Tasikmalaya mengklaim keluhan masyarakat soal persoalan sampah mulai berkurang.
Namun di balik klaim tersebut, realitas di lapangan menunjukkan persoalan klasik belum sepenuhnya tuntas—produksi sampah terus bertambah sementara armada pengangkut masih serba terbatas.
Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan menyebut berkurangnya keluhan masyarakat itu berkorelasi dengan meningkatnya Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH)nKota Tasikmalaya dalam periode 2024–2025.
Baca Juga:Sekda Umumkan Agenda Libur Panjang Lebaran ASN Kota Tasikmalaya, Tapi Ingatkan hal ini Diky Candra Ingatkan Musrenbang Kota Tasikmalaya Jangan Sekadar Formalitas
Menurutnya, salah satu komponen yang mendorong kenaikan indeks tersebut berasal dari sektor pengelolaan sampah.
“Indeks kualitas lingkungan hidup ini kan ada beberapa komponen, salah satunya sampah. Dari 2024 ke 2025 itu kenaikannya cukup drastis sehingga target kita bahkan sudah tercapai dan melebihi,” ujar Viman saat membuka Musrenbang Dinas Lingkungan Hidup, Senin (9/3/2026).
Meski begitu, Viman mengakui capaian berbasis angka tersebut belum tentu sepenuhnya mencerminkan kondisi yang dirasakan masyarakat.
Ia menilai indikator statistik perlu terus diuji dengan kondisi riil di lapangan agar tidak sekadar menjadi angka manis di laporan.
“Jangan sampai secara angka terlihat baik, tapi masyarakat belum merasa terlayani. Itu yang harus kita lihat,” katanya.
Selain merujuk pada IKLH, Viman juga mengklaim keluhan masyarakat terkait sampah yang masuk ke pemerintah kota maupun DPRD mulai berkurang.
Menurutnya, penurunan komplain tersebut menjadi salah satu indikator bahwa situasi pengelolaan sampah di Kota Tasikmalaya mulai menunjukkan perubahan.
Baca Juga:Di Kota Tasikmalaya THR Bisa Jadi Tunjangan Hari Syawal (THS)!Ini Nasihat Ketua MUI Kota Tasikmalaya soal Konser Musik Usai Lebaran: Momentumnya Dijaga!
“Penyampaian aspirasi atau komplain mengenai sampah ini juga menurun di dewan maupun ke kami. Jadi ada korelasi dengan IKLH tadi,” ujarnya.
Namun ia tetap mengakui masih ada sejumlah kekurangan yang harus dibenahi dalam pengelolaan sampah.
Viman juga menyinggung kondisi TPA Ciangir yang disebut mulai mengalami perbaikan secara bertahap.
Beberapa aspek yang disoroti di antaranya pengelolaan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) dan sistem landfill yang disebut mulai berjalan lebih baik.
Namun proyek IPAL di TPA Ciangir sebelumnya sempat menuai kritik. Fasilitas senilai sekitar Rp3,3 miliar itu dipersoalkan karena air limbah yang dihasilkan disebut masih berwarna hitam saat mengalir ke sungai.
