Di sisi lain, kehadiran Syaikh Muhammad Ra’id Muhammad Ghanim juga diharapkan menjadi sumber inspirasi bagi para siswa. Meski masih berstatus mahasiswa, ia telah menghafal Al-Qur’an sejak usia 12 tahun di tengah situasi negaranya yang dilanda konflik.
Menurut In In, kisah tersebut menjadi pengingat bagi para siswa bahwa keterbatasan kondisi bukanlah penghalang untuk berprestasi dalam mempelajari Al-Qur’an.
“Syaikh yang kami hadirkan masih muda, sejak usia 12 tahun sudah hafiz alquran dan mutqin. Dan ini mudah mudahan menginspirasi anak didik kami, itu adalah semangat untuk belajar menghapal Al Quran karena suasana Indonesia yang tenang dan damai kenapa tidak bisa? Mereka di tengah berkecamuk perang kok bisa,” pungkasnya. (Fitriah Widayanti)
