Tapi diskusi belum juga selesai. Saya pulang dengan satu kesan. Diam-diam, tanpa banyak orang tahu, peta informasi, bisnis, komunikasi, dan koordinasi di Tasikmalaya mulai bergeser.
Bukan lagi hanya di kantor. Bukan juga di ruang rapat resmi. Tapi di tempat sederhana. Di meja kopi. Di tengah angin malam. Di sebuah sudut kota bernama SIMLIM. Simpang Lima. (red)
