TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Bukan singkatan lembaga negara. Bukan pula nama program pemerintah. SIMLIM itu Simpang Lima. Nama jalan di Kota Tasikmalaya.
Belakangan tempat itu terasa berbeda. Terutama setelah lewat tengah malam. Ketika kota mulai sunyi. Ketika suara kendaraan tinggal sesekali. Ketika udara berubah lebih dingin.
Anginnya semalam juga cukup kencang. Saya duduk di sana. Dengan tiga orang tokoh Tasikmalaya. Tiga orang. Tiga latar belakang. Tiga gaya bicara.
Baca Juga:Jalur Selatan Tasikmalaya Jadi Fokus Pengamanan Mudik LebaranKisah Riswan, Kuli Pasir yang Menggetarkan Hati Kapolres Andi: Diajak Jalan-jalan hingga Bukber
Ada yang bicara pelan tapi tajam. Ada yang santai tapi penuh data. Ada yang lebih banyak diam, tapi sekali bicara langsung menusuk. Kami hanya ditemani kopi. Kopi khas Simpang Lima.
Obrolannya awalnya ringan. Tapi seperti biasa, kalau orang Tasik sudah berkumpul, obrolan cepat sekali melebar.
Dari perang Iran. Lalu pindah ke krisis pangan dunia. Lompat lagi ke program MBG. Lalu berhenti lama di satu topik, yakni birokrasi dan pemerintahan Kota Tasikmalaya.
Diskusinya serius. Kadang diselingi tawa. Kadang juga hening beberapa detik—tanda semua sedang berpikir. Saya sengaja tidak menyebut nama mereka.
Bukan karena tidak penting. Justru karena mereka penting. Dan saya tidak minta izin kepada mereka untuk menuliskan ini.
Yang jelas satu, ketiganya memiliki jejaring yang luas. Di politik ada. Di bisnis ada. Di keamanan juga ada. Mereka tahu banyak hal. Terlalu banyak malah.
Dari diskusi semalam saya menarik satu kesimpulan sederhana. Ketiganya peduli pada Tasikmalaya. Peduli betul. Mereka percaya kota ini bisa lebih baik. Bisa lebih maju. Bisa lebih sejahtera. Masyarakatnya bisa lebih bahagia.
Baca Juga:Dari Nuzulul Qur’an, Pemkot Kota Tasikmalaya Perkuat Gerakan Generasi Penghafal Al-Qur’anTakjil Dibagikan, Al-Qur’an Dikhatamkan: Cara SOG Chapter Tasikmalaya Mengisi Ramadan!
Tapi mereka juga sepakat pada satu hal, perubahan tidak datang sendiri. Perubahan perlu niat. Perubahan perlu kemauan. Perubahan perlu hati yang lurus. Dan satu lagi yang paling penting. Kemauan untuk belajar.
Di tengah diskusi itu, salah satu dari mereka berkata pelan. “Pemimpin itu harus mau mendengar.” Yang lain menimpali “Bukan hanya mendengar… tapi juga merasakan.” Saya setuju.
Karena kadang masalah pemerintahan bukan soal kurang program. Tapi kurang mendengar. Dan kurang merasakan. Jam sudah lewat tengah malam. Udara Simpang Lima makin dingin. Angin masih berhembus cukup kencang. Kopi sudah hampir habis.
