Kota selalu menghadapi dilema yang sama. Antara ketertiban dan ekonomi rakyat kecil. PKL sering berada di tengah dilema itu. Terlalu ditertibkan, ekonomi kecil mati. Terlalu dibiarkan, kota terlihat semrawut.
Maka lahirlah jalan tengah, ditata, bukan diusir. HZ Mustofa menjadi laboratorium kebijakan itu. Jika berhasil, kota akan ramai tapi tetap rapi. Jika gagal, keluhan lama akan kembali muncul, macet, kumuh, parkir liar.
Yang menarik sebenarnya bukan soal PKL boleh atau tidak. Yang menarik adalah cara sebuah kota mencoba mengatur kehidupan di trotoarnya sendiri.
Baca Juga:Kongkow Tengah Malam, Membahas Lari Dini Hari Anak Muda Tasikmalaya!Jika THR ASN Tak Datang di Kota Resik!
Dan di Kota Tasikmalaya, Ramadan tahun ini menjadi panggung percobaan itu. Antara gerobak, tenda sarnafil, dan jalan protokol yang selama ini terlalu rapi untuk pedagang kecil. (red)
