TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Pedagang kaki lima di Kota Tasikmalaya pasti sedang belajar satu hal penting. Lokasi menentukan nasib.
Beberapa bulan lalu, sejumlah PKL yang biasa berjualan di sekitar Masjid Agung Tasikmalaya harus mengemasi lapaknya. Mereka ditertibkan. Tidak boleh lagi berjualan di area itu.
Alasannya klasik, ketertiban. Estetika kota. Kenyamanan jamaah. Lapak dibongkar. Gerobak dipindahkan. Beberapa pedagang hanya bisa pasrah.
Baca Juga:Kongkow Tengah Malam, Membahas Lari Dini Hari Anak Muda Tasikmalaya!Jika THR ASN Tak Datang di Kota Resik!
Namun cerita berubah ketika kita bergeser beberapa ratus meter dari sana. Ke arah jalan yang lebih terkenal. Jalan KH Zaenal Mustofa.
Di sinilah cerita berbeda dimulai. Bertahun-tahun jalan itu dijaga rapi. Hampir steril dari PKL. Padahal ini pusat keramaian kota.Pusat belanja. Pusat lalu lintas manusia. Tetapi aturan tidak tertulis selalu sama. PKL jangan masuk.
Bahkan saat Ramadan. Kini di era kepemimpinan Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan dan wakilnya Diky Chandra, aturan itu berubah.
Pemkot justru membuka ruang. PKL diperbolehkan berjualan di sepanjang HZ Mustofa selama 10 hari terakhir Ramadan.Tentu dengan syarat. Tenda harus seragam. Kebersihan dijaga. Lalu lintas tidak boleh lumpuh.
Semua dibahas dalam rapat koordinasi yang melibatkan Satpol PP, Dishub, hingga dinas ekonomi. Di satu sisi PKL ditertibkan di depan Masjid Agung. Di sisi lain PKL justru diberi ruang di HZ Mustofa.
Padahal jaraknya tidak jauh. Masih satu kawasan pusat kota Kota Tasikmalaya. Lalu muncul pertanyaan sederhana dari masyarakat. Kenapa pedagang kaki lima diperlakukan berbeda? Apakah karena tempatnya berbeda? Atau karena tujuan kotanya juga berbeda?
Jika dilihat lebih dalam, kebijakan ini sebenarnya sedang mengejar dua hal sekaligus. Pertama, menjaga kawasan ibadah tetap tertib. Masjid Agung adalah ruang religius. Banyak jamaah datang untuk salat. Aktivitas ibadah perlu ruang yang lebih tenang dan lapang.
Baca Juga:DAG..DIG..DUG..THR ASN DI KOTA RESIK!Bagikan Kemanfaatan dalam Kesederhanaan, Radar Tasikmalaya dan Gandara Group Bagi-bagi Takjil di Jalan
Lapak PKL yang terlalu padat dianggap mengganggu akses jamaah. Kedua, menghidupkan ekonomi malam Ramadan.HZ Mustofa adalah kawasan komersial. Di sana orang datang untuk berjalan-jalan, belanja, dan mencari takjil.
Ramadan justru menjadi momentum ekonomi. Dengan kata lain. Masjid Agung dijaga kesakralannya. HZ Mustofa dimaksimalkan keramaiannya.
