Tapi konsekuensinya, kapasitas jalan kendaraan menjadi lebih terbatas. Solusinya. rekayasa lalu lintas.
Parkir diarahkan ke jalan penunjang seperti. Jalan Panyerutan. Jalan Pataruman. Jalan Selakaso. Jalan Empangsari. Skema in-access dan out-access akan diterapkan.
Parkir liar akan ditindak. Kalau tidak, pusat kota bisa berubah jadi parkiran raksasa.
Baca Juga:Aksi Kamisan di Kota Tasikmalaya Soroti Impunitas dan Ketimpangan Sosial, Keadilan Jangan Hanya Jadi SloganMahasiswi UMB Sukses Bikin Tersenyum Bangga, Hasna Raih Juara Nasional Desain Program Pemberdayaan
Keputusan membuka HZ Mustofa untuk PKL mungkin terlihat sederhana. Tapi bagi warga Tasikmalaya, ini cukup simbolik.
Selama ini kawasan itu seperti etalase kota. Harus rapi. Harus bersih. Harus steril dari lapak.
Kini pendekatannya sedikit berubah. Ekonomi rakyat kecil ikut diberi ruang. Tentu dengan syarat, kota tetap terlihat cantik.
Inilah yang sering disebut orang sebagai gaya kepemimpinan generasi baru. Tidak terlalu kaku. Tidak terlalu takut mencoba.
Kadang keputusan kecil seperti ini justru yang paling terasa oleh masyarakat. Karena bagi sebagian orang, Ramadan bukan hanya soal ibadah.
Tapi juga soal kesempatan mencari rezeki. Dan tahun ini, untuk pertama kalinya, rezeki itu boleh datang dari trotoar HZ Mustofa.
Sebuah sejarah kecil. Yang mungkin baru terasa besarnya… beberapa tahun lagi. (firgiawan)
