JAKARTA, RADARTASIK.ID – Pertemuan itu tampak biasa saja. Tidak ada podium. Tidak ada mikrofon. Tidak ada wartawan yang berebut kutipan.
Hanya dua kursi. Dua tokoh. Dan satu percakapan yang terlihat santai.
Di satu kursi duduk Amir Mahpud. Ketua DPD Partai Gerindra Jawa Barat. Sekaligus anggota Dewan Pembina DPP partai itu.
Baca Juga:Kapolres Hariwang!Pertamina Turunkan Satgas RAFI Selama Ramadan dan Idul Fitri 1447 H
Di kursi yang berhadapan duduk Sufmi Dasco Ahmad. Ketua Harian DPP Gerindra. Salah satu pendiri partai. Orang yang sudah lama dikenal sebagai tangan kanan Prabowo Subianto dalam urusan konsolidasi politik.
Gesturnya menarik. Tidak kaku. Tidak formal. Tapi juga tidak main-main. Mereka duduk saling berhadapan. Tubuh sedikit condong ke depan. Sesekali tangan bergerak. Seperti orang yang sedang membicarakan sesuatu yang penting—namun tidak perlu dibicarakan keras-keras.
Pertemuan seperti ini sering justru lebih menentukan daripada rapat resmi. Tidak ada notulen. Tidak ada keputusan tertulis. Tapi arah politik kadang lahir dari percakapan seperti itu.
Apa yang dibahas? Tidak ada yang tahu pasti. Namun jika melihat posisi dua orang ini, pembicaraan ringan seperti harga kopi rasanya tidak cukup kuat untuk membuat mereka duduk cukup lama.
Yang duduk di sana bukan orang sembarangan. Amir Mahpud mengendalikan salah satu wilayah politik terbesar bagi Gerindra: Jawa Barat. Provinsi dengan jumlah pemilih paling besar di Indonesia.
Sementara Dasco berada di dapur utama partai. Ia yang sehari-hari menjaga mesin organisasi tetap hidup. Dalam bahasa politik: satu menguasai wilayah. Yang satu mengatur strategi.
Kalau dua posisi itu bertemu, biasanya yang dibahas bukan soal cuaca. Bisa saja soal konsolidasi partai. Bisa juga membaca arah politik nasional setelah pemerintahan baru berjalan.
Baca Juga:Dua Gaya, Dua Pintu, Dua Era Bupati Tasikmalaya!Habis Diserap MBG, Harga Komoditas di Pasar Cikurubuk Kota Tasikmalaya Melambung
Atau mungkin—ini yang sering menarik—membaca peta geopolitik. Ya, geopolitik.
Kata yang terdengar besar. Tapi belakangan sering muncul di meja-meja diskusi politik.
Dunia sedang berubah cepat. Amerika, Tiongkok, Rusia, Timur Tengah—semuanya saling tarik menarik kepentingan. Indonesia tentu tidak bisa berdiri di luar pusaran itu.
Dan bagi partai yang dipimpin oleh seorang presiden seperti Prabowo Subianto, membaca peta global bukan lagi sekadar diskusi akademik.
