Habis Diserap MBG, Harga Komoditas di Pasar Cikurubuk Kota Tasikmalaya Melambung

dampak MBG Tasikmalaya
Beberapa pedagang mengupas bawang merah di Pasar Cikurubuk, Kamis 5 Maret 2026. (Rezza Rizaldi/radartasik.id)
0 Komentar

“Kalau musim hujan panennya susah, banyak yang busuk. Jadi harga cepat naik,” katanya.

Sementara itu, Kepala UPTD Pasar Cikurubuk, Deri Herlisana, mengakui meningkatnya permintaan dari program MBG turut memengaruhi pergerakan harga di pasar.

Menurutnya, ketika permintaan melonjak sementara pasokan terbatas, harga komoditas otomatis ikut terdorong naik.

Baca Juga:Transfer Pejabat Pemkab Tasik Tahun Ini: Pintu yang Sulit Diketuk (part 3-habis)Sentra Ikan, Telur, dan Hortikultura Disiapkan untuk MBG Kota Tasikmalaya agar Ekonomi Warga Ikut Kenyang

“Pedagang banyak yang mengeluh karena stok terbatas, sementara permintaan meningkat. Jadi harga-harga ikut terbawa naik,” kata Deri.

Ia juga mengungkapkan sebagian besar komoditas pangan yang beredar di pasar Kota Tasikmalaya masih berasal dari luar daerah.

“Hampir sekitar 70 sampai 80 persen barang pangan masih dari luar Kota Tasik. Kota Tasik itu kan lebih banyak konsumsi, bukan produksi,” ujarnya.

Komoditas seperti telur bahkan sebagian besar didatangkan dari luar daerah, salah satunya dari Blitar. Begitu pula beras yang banyak dipasok dari wilayah kabupaten sekitar.

Kondisi ini membuat perputaran ekonomi dari program MBG belum sepenuhnya dinikmati oleh pelaku usaha lokal di pasar tradisional.

“Sekarang banyak dapur MBG belanja langsung ke distributor atau supplier besar. Padahal seharusnya pasar tradisional terdekat juga bisa ikut merasakan dampaknya,” kata Deri.

Anggota Komisi II DPRD Kota Tasikmalaya, Enan Suherlan, menilai pemerintah perlu segera melakukan pemetaan potensi produksi pangan lokal agar kebutuhan MBG tidak terus bergantung pada daerah lain.

Baca Juga:LPS Lantik Pejabat Baru, Perkuat Kesiapan Penjaminan Polis 2027KPK Sasar Auditor BPK, Dua Dirjen PU Kompak Mundur

Menurutnya, komoditas seperti telur, ayam, dan beras membutuhkan proses produksi yang tidak instan sehingga perlu perencanaan jangka pendek, menengah, hingga panjang.

“Telur misalnya, itu butuh proses. Ayam sekitar satu bulan, beras tiga bulan. Jadi pemerintah harus memetakan potensi wilayah mana yang bisa menjadi sumber produksi,” ujar Enan.

Ia menekankan pentingnya mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah agar perputaran uang dari program MBG tetap berada di dalam Kota Tasikmalaya.

“Jangan sampai program besar seperti MBG justru membuat uangnya lebih banyak berputar di luar daerah. Kalau bisa dimaksimalkan dari dalam kota, dampak ekonominya akan jauh lebih terasa,” katanya.

0 Komentar