“Dari kekalahan kita belajar lebih banyak daripada dari kemenangan,” ujar Gasperini.
Sebagai contoh, ia menyinggung sebuah pertandingan melawan Juventus. Menurutnya, jika timnya menang tipis di akhir pertandingan, mungkin mereka tidak akan menganalisis kesalahan yang terjadi.
“Jika pertandingan itu berakhir 3-2 untuk kami pada 30 detik terakhir, semua orang pasti akan jauh lebih bahagia. Tapi mungkin kami tidak akan menganalisis kesalahan yang terjadi dalam pertandingan itu,” pungkasnya.
Baca Juga:Radja Nainggolan: Lautaro dan Spalletti yang Buat Inter Pecat Mauro IcardiAllegri Senjata Rahasia AC Milan untuk Menyalip Inter dan Memenangkan Scudetto
Karena itu, bagi Gasperini, kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Justru dari momen-momen sulit itulah sebuah tim dapat berkembang menjadi lebih kuat.
