TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Suasana hangat penuh kepedulian mewarnai kegiatan buka puasa bersama (bukber) yang digelar Indoboxing di The Legend Coffee & Resto, Jalan Juanda, Kota Tasikmalaya, Jumat (6/3/2026) sore.
Tak sekadar buka bersama, kegiatan tersebut juga diisi dengan santunan bagi ratusan anak yatim dan lansia sebagai bentuk kepedulian sosial komunitas olahraga bela diri tersebut.
Ketua Umum Indoboxing Lagha Inau, H. Rana Nuralamsyah mengatakan, awalnya santunan disiapkan untuk sekitar 200 orang. Namun jumlah penerima bertambah hingga mencapai 243 orang.
Baca Juga:Viman Sentil Kadiskominfo Kota Tasikmalaya: Jangan Bangun “Rumah Digital” Tapi Isinya KosongTHR Pegawai Pemkot Tasikmalaya Belum Diputuskan, Viman: Uangnya Ada, Tinggal Atur Strategi Fiskal
“Awalnya saya siapkan untuk 200 orang, tapi ternyata ada penambahan jadi 243 anak yatim dan lansia yang menerima santunan hari ini,” ujarnya.
Santunan yang diberikan berupa paket sembako dan bantuan uang. Isi paket tersebut di antaranya minyak goreng, mi instan, pop mie, makanan kaleng, kue, kaos dan lain sebagainya.
Ia menuturkan, kegiatan berbagi ini bukan hal baru bagi Indoboxing. Komunitas tersebut rutin menggelar kegiatan sosial setiap tiga bulan sekali.
Menurutnya, dana santunan dikumpulkan dari sebagian biaya latihan para anggota yang kemudian dihimpun untuk kegiatan sosial.
“Kami merasakan di Kota Tasikmalaya masih banyak masyarakat yang membutuhkan. Jadi sebagian biaya latihan anggota kami kumpulkan untuk santunan seperti ini,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut juga tampak hadir unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Tasikmalaya serta sejumlah instansi lainnya.
“Alhamdulillah tadi hadir juga Forkopimda, Kapolres, Dandim, perwakilan Lanud, Subdenpom, Garnisun dan beberapa instansi lain,” tambahnya.
Baca Juga:Alumni SMAN 1 Tasikmalaya Perkuat Solidaritas Lewat Ratusan Paket RamadanUlama Turun ke Pengadilan, Dukung Polisi Berantas Miras di Kota Tasikmalaya
Sementara itu Wakil Wali Kota Tasikmalaya Diky Candra mengapresiasi kegiatan sosial yang dilakukan komunitas olahraga tersebut.
Menurutnya, olahraga bela diri bukan hanya soal kekuatan fisik, tetapi juga harus diimbangi ketenangan batin.
Ia bahkan menyebut filosofi bela diri tidak bisa dilepaskan dari nilai spiritual.
“Basic daripada silat itu sebenarnya salat. Kenapa? Karena bagaimana kita menguasai silat kalau tidak ada ketenangan. Ketenangan itu datang dari salat,” tutur Diky.
Menurutnya, seorang petarung membutuhkan ketenangan untuk membaca situasi saat bertanding, termasuk kapan harus menghindar atau menyerang.
