Diky mengakui, untuk sementara pengambilan bahan pangan dari luar daerah masih tak terhindarkan. Namun ia menyebut itu sebagai fase transisi karena produksi lokal belum sepenuhnya siap menghadapi lonjakan kebutuhan MBG.
“Kalau sekarang masih ambil dari luar, itu wajar. Kitanya memang belum sepenuhnya ready. Tapi jangan sampai ini jadi kebiasaan,” katanya.
Upaya penguatan pangan lokal juga diselaraskan dengan program bantuan dari pemerintah pusat. Diky menyebut, Kota Tasikmalaya mendapat empat titik bantuan budidaya dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), masing-masing senilai sekitar Rp600 ribu per titik. Selain itu, bantuan ayam petelur juga datang dari Kementerian Pertanian.
Baca Juga:LPS Lantik Pejabat Baru, Perkuat Kesiapan Penjaminan Polis 2027KPK Sasar Auditor BPK, Dua Dirjen PU Kompak Mundur
“Ini bukan inovasi kami, jujur saja. Ini memang program dari kementerian. Tapi syaratnya harus diselaraskan dengan koperasi. Harapannya, koperasi nanti bisa bekerja sama langsung dengan MBG,” jelasnya.
Menurut Diky, jika model ini berhasil, Kota Tasikmalaya berpeluang menarik lebih banyak program bantuan serupa dengan kuota yang lebih besar. Dengan begitu, kebutuhan MBG bisa dipenuhi dari produksi lokal tanpa harus mengandalkan daerah lain.
“Kalau ini sukses, kita bisa tarik program lebih besar lagi. Dan kebutuhan MBG bisa dipenuhi dari Tasik sendiri. Jangan sampai benar kata Akang tadi, MBG ada tapi duitnya muter ke luar. Sayang,” tambahnya.
Sejalan dengan itu, hasil Musrenbang RKPD 2027 menunjukkan sejumlah kecamatan di Kota Tasikmalaya mulai memetakan diri sebagai sentra pangan.
Kecamatan Cipedes mengusulkan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) hortikultura. Kecamatan Tawang mengarah pada sentra hortikultura dan benih ikan.
Kawalu memperkuat KRPL hortikultura, sementara Cibeureum dan Tamansari fokus pada sentra perikanan seperti nila, gurame, dan lele.
Kecamatan Mangkubumi mengusulkan sentra telur ayam sebagai pemasok protein hewani. Bungursari dan Purbaratu diarahkan menjadi sentra beras untuk menopang kebutuhan karbohidrat MBG.
Baca Juga:Transfer Pejabat Pemkab Tasik Tahun Ini: Gaung Kadis Impor yang Belum Terdengar (part2)Tali Kasih Polres Tasikmalaya Melalui Gerakan Pangan Murah di Bulan Ramadan
“Data usulan ini menunjukkan ada integrasi antara kesehatan dan ekonomi. Penanganan stunting lewat program Tasik Gemas harus jalan bareng dengan penguatan pertanian dan perikanan lewat Tasik Pelak,” jelas Diky.
Prioritas pembangunan Kota Tasikmalaya tahun 2027 memang diarahkan pada peningkatan produktivitas tanaman pangan, hortikultura, peternakan, dan perikanan.
