Sentra Ikan, Telur, dan Hortikultura Disiapkan untuk MBG Kota Tasikmalaya agar Ekonomi Warga Ikut Kenyang

MBG Tasikmalaya pangan lokal
Wakil Wali Kota Tasikmalaya Diky Candra saat memimpin apel di Kejari beberapa waktu lalu.
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Tasikmalaya tak ingin sekadar menjadi proyek makan siang massal yang uangnya malah piknik ke luar daerah. Pemerintah daerah mulai menggeser arah kebijakan: bahan pangan harus lahir dari kebun, kolam, dan kandang warga sendiri.

Ketua Tim Satgas Percepatan Pembangunan MBG Kota Tasikmalaya, Diky Candra, menyebut perputaran uang dari program ini bisa mencapai ratusan miliar rupiah per tahun. Namun ironisnya, sebagian besar komoditas pangan masih didatangkan dari luar wilayah.

“Perputaran uang di Tasik itu bisa sampai Rp300 miliar setahun. Tapi komoditinya masih banyak yang dari luar daerah. Sayang sekali kalau MBG jalan, tapi duitnya malah muter di luar Tasik,” ujar Diky, Rabu (4/3/2026).

Baca Juga:LPS Lantik Pejabat Baru, Perkuat Kesiapan Penjaminan Polis 2027KPK Sasar Auditor BPK, Dua Dirjen PU Kompak Mundur

Karena itu, pihaknya terus mengupayakan peningkatan kuota sekaligus mendorong kesiapan produksi lokal. Dari sebelumnya hanya 79 titik, kini bertambah menjadi 94 titik layanan MBG.

Namun Diky menegaskan, angka itu belum cukup jika tidak diimbangi dengan kesiapan suplai pangan dari dalam daerah.

“Targetnya bukan cuma nambah kuota, tapi bagaimana bahan bakunya juga dari Tasik. Jangan sampai MBG ada, tapi petaninya malah orang luar,” katanya dengan nada menyindir halus.

Saat ini, beberapa komoditas mulai diikhtiarkan berasal dari wilayah sendiri. Untuk sektor perikanan, pasokan ikan sudah mulai diambil dari wilayah Kota Tasikmalaya.

Di Kecamatan Mangkubumi, pengembangan buncis tengah diupayakan sebagai salah satu sumber sayuran. Sementara telur ayam petelur masih harus bekerja sama dengan Kabupaten Ciamis karena faktor kualitas dan standar kelayakan konsumsi.

“Telur itu bukan enggak boleh dipakai, tapi harus dicek dulu kualitasnya. Dari Ciamis alat dan sistemnya sudah siap. Kalau dari Tasik bolak-balik ke Ciamis buat cek kualitas, ya berat juga,” terang Diky.

Kondisi itu, menurutnya, menjadi tantangan serius. Pemerintah kota kini mulai merancang kerja sama dengan pelaku usaha lokal, termasuk produsen olahan seperti nugget berbahan lele dan ikan lainnya agar bisa masuk ke rantai pasok MBG.

Baca Juga:Transfer Pejabat Pemkab Tasik Tahun Ini: Gaung Kadis Impor yang Belum Terdengar (part2)Tali Kasih Polres Tasikmalaya Melalui Gerakan Pangan Murah di Bulan Ramadan

“Kita ingin nanti bukan cuma ikan segar, tapi juga produk olahan lokal. Nugget dari lele, dari ikan. Itu bisa kerja sama dengan MBG. Tapi ini perlu waktu karena membangun sistemnya tidak sebentar,” bebernya.

0 Komentar